Cerita Populer: Aku Menatap Langit Yang Runtuh, Dan Hanya Namamu Tersisa
Aku Menatap Langit yang Runtuh, dan Hanya Namamu yang Tersisa
Bunga Plum mekar di musim dingin. Begitu pula dengan dirinya, Bai Lian. Di tengah gundukan mayat kekasihnya, di bawah panji-panji berlumuran darah para pengkhianat, ia berdiri. Dulu, ia adalah permaisuri yang dicintai, permata Kaisar yang berkuasa. Sekarang? Debu sejarah.
Cinta, dulunya adalah surga baginya, kini hanya menjadi jurang tak berdasar. Kekuasaan, yang seharusnya melindunginya, telah menjadi alat kehancuran. Kaisar, kekasihnya, telah merebut segalanya. Istana, kepercayaannya, bahkan nyawa orang-orang yang dicintainya. Pengkhianatan itu begitu dalam, begitu pahit, sehingga hatinya mati rasa.
Bai Lian kehilangan segalanya. Segalanya, kecuali ingatan.
Lima tahun berlalu. Bai Lian bukan lagi permaisuri yang lemah lembut. Ia menjadi Ling, seorang tabib keliling dengan ketenangan seorang biarawati dan ketajaman belati tersembunyi. Ia merawat yang sakit, menolong yang lemah, dan merencanakan. Ia tidak mencari amarah yang membabi buta, melainkan keadilan yang dingin dan terukur. Dendamnya tidak berteriak, tapi berbisik, merayap seperti racun dalam anggur.
Ia mempelajari kelemahan. Kelemahan manusia, kelemahan sistem, kelemahan Kaisar. Ia melihat korupsi yang menggerogoti kerajaan, keserakahan para pejabat, dan penderitaan rakyat yang terlupakan. Dengan setiap informasi yang ia kumpulkan, dengan setiap sekutu yang ia rekrut, pondasi kekaisaran mulai berderit.
Kecantikannya tetap ada, namun sekarang ada lapisan baja di baliknya. Senyumnya masih memikat, namun ada bayangan kesedihan dan tekad yang membuatnya semakin mempesona. Ia adalah bunga yang tumbuh di medan perang, anggun namun mematikan.
Suatu malam yang dingin, Bai Lian (sekarang dikenal sebagai Ling si tabib yang disegani) berdiri di balkon istana, menghadap kota yang dulu adalah miliknya. Kaisar, yang kini beruban dan penuh penyesalan, menatapnya dengan mata kosong. Kudeta telah selesai. Orang-orangnya, orang-orang yang ia rawat dan latih selama lima tahun, telah merebut kembali kekaisaran.
"Kenapa?" Kaisar berbisik, suaranya bergetar. "Kenapa kamu melakukan ini?"
Bai Lian menatapnya, tidak ada amarah, hanya kesedihan yang mendalam. Ia mengangkat tangannya, menunjukkan cincin giok yang dulu Kaisar berikan padanya. Cincin itu retak, sama seperti hatinya.
"Karena," katanya dengan suara yang lembut namun menusuk jiwa, "kamu lupa bahwa mahkota sejati tidak didapatkan dengan kekerasan, tetapi dengan kehormatan."
Kaisar jatuh berlutut, kekuasaan yang dulunya ia genggam erat sekarang hancur di tangannya.
Bai Lian berbalik, meninggalkan istana yang berlumuran darah dan penyesalan. Ia tahu, balas dendam bukanlah akhir, melainkan awal yang baru. Ia akan membangun kembali, bukan di atas fondasi kekuasaan yang korup, melainkan di atas fondasi keadilan dan kasih sayang.
Di langit yang mulai cerah, ia tersenyum tipis. Kerajaan baru menantinya, dan ia akan menjadi ratu yang layak.
Dan ia tahu, inilah saatnya ia mengenakan mahkota yang sesungguhnya, mahkota yang ditempa dari luka, kebijaksanaan, dan tekad baja, karena akhirnya... ia telah menjadi ratu bagi dirinya sendiri.
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Digigit Burung Pipit