FULL DRAMA! Aku Menatap Cermin, Dan Hanya Melihat Bayanganmu
Aku Menatap Cermin, dan Hanya Melihat Bayanganmu
Kabut PEKAT menyelimuti Puncak Tianmen, menyembunyikan jurang yang menganga di bawah sana. Angin dingin menyusup melalui sutra hanfu berwarna abu-abu yang kupakai, membuatku menggigil. Lima belas tahun. Lima belas tahun aku menghilang, dianggap tewas dalam pemberontakan di Istana Timur. Sekarang, aku kembali.
Lorong-lorong istana sunyi senyap, hanya terdengar gemerisik kain sutra saat aku melangkah. Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan indah yang kini terasa hampa. Di ujung lorong, berdiri dia. Lan Wangji. Saudara seperguruanku, sahabatku, dan… cinta yang tak terucap.
Wajahnya masih setampan dulu, namun garis keras di sekitar matanya mengkhianati beban yang dipikulnya selama ini. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kupahami. Haru? Curiga? Atau mungkin… penyesalan?
"Wei Wuxian," ucapnya lirih, suaranya seperti hembusan angin di antara bebatuan. "Kau… hidup."
Aku tersenyum tipis. "Hidup? Atau sekadar bayangan dari masa lalu, Wangji?"
Ia mendekat, wajahnya serius. "Mengapa kau kembali? Semua orang mengira kau sudah… tenang."
Aku berhenti tepat di depannya. Mataku menatap lurus ke dalam matanya yang kelam. "Tenang? Bagaimana bisa aku tenang sementara kebenaran masih terkubur di bawah reruntuhan Istana Timur?"
"Kebenaran apa yang kau maksud, Wuxian? Pemberontakan itu jelas. Pangeran Lan Xichen berkhianat."
Aku tertawa hambar. "Benarkah? Kau begitu yakin, Wangji? Tidakkah kau pernah bertanya-tanya mengapa HANYA aku yang dianggap dalang utama? Tidakkah kau curiga mengapa Pangeran Lan Xichen, dengan segala kekuasaan dan pengaruhnya, begitu mudah dilengserkan?"
Ia terdiam, rahangnya mengeras. Aku bisa melihat keraguan mulai merayap di benaknya.
Aku melangkah ke sebuah cermin besar yang terletak di sudut ruangan. Bayanganku terpantul di sana, namun aku tidak melihat diriku sendiri. Aku melihat bayangannya, Lan Wangji, berdiri tepat di belakangku.
"Selama ini, kau selalu melihatku sebagai korban, Wangji. Sebagai orang yang terjebak dalam pusaran politik istana. Tapi, pernahkah kau berpikir… bahwa akulah yang memutar pusaran itu?"
Kupalingkan wajahku, menatapnya dengan senyum DINGIN. "Aku yang merencanakan semuanya, Wangji. Aku yang mengatur bidak-bidak di papan catur. Istana Timur hanyalah alat. Pangeran Lan Xichen adalah KORBAN. Dan kau… kau adalah KUNCI."
Dia tertegun, bibirnya bergetar. Matanya dipenuhi KETIDAKPERCAYAAN.
Aku mendekat, membisikkan kata-kata terakhirku di telinganya.
"Aku butuh kekacauan, Wangji. Aku butuh pengorbanan. Dan aku butuh… cintamu. Tapi cinta sejati SELALU membutuhkan darah."
Kemudian aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Lan Wangji yang terhuyung di depan cermin, wajahnya pucat pasi.
Di Puncak Tianmen, kabut berputar semakin kencang. Sekarang, dia akan mengerti mengapa bayanganku selalu menghantui cerminnya. Karena, sejak awal, dialah yang menjadi refleksi dari semua keputusanku.
You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif_27