## Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah Hujan gerimis menari-nari di atas nisan batu abu-abu. Setiap tetesnya seperti air mata yang tak pernah kering. Aku berdiri di sini, *lagi*, bayangan yang menolak pergi, terikat pada dunia yang tak lagi menjadi hakku. Dahulu, tempat ini adalah nerakaku. Sekarang, ini adalah *satu-satunya* tempat di mana aku bisa bernapas, meski hanya sebagai angin sepoi yang tak kasat mata. Lima musim telah berlalu sejak napasku terhenti di ruang kerja yang sunyi, tinta yang tak sempat mengering di atas kertas wasiat yang tak terselesaikan. Kematianku, sebuah bisikan di antara daun-daun teh, sebuah tragedi yang terlupakan. Mereka bilang, aku bunuh diri. Bohong. ***BOHONG BESAR!*** Aku kembali bukan untuk membalas dendam, tidak seperti yang mereka duga. Arwah gentayangan sepertiku, katanya, haus akan darah dan keadilan. Tapi aku? Aku hanya ingin mengucapkan apa yang tertinggal, kebenaran yang pahit yang mati bersamaku di tenggorokan. Setiap malam, aku mengembara di antara dunia hidup dan mati. Aku melihatnya, Yun, wanita yang katanya mencintaiku, wanita yang mewarisi taman terindahku, wanita yang sekarang memuja bunga liar yang dibawa oleh pria lain. Pria itu, Wei, datang berkunjung setiap sore. Dia membawakannya bunga liar, sederhana namun tulus. Yun tertawa, tawa yang dulu hanya menjadi milikku. Aku melihatnya, merasakan kepedihan yang tak terlukiskan. *Kenapa?* Kenapa dia lebih memilih bunga liar sementara aku telah membentangkan taman terindah di hadapannya? Aku mengikutinya, Yun, ke ruang kerjaku, ke tempat di mana nyawaku direnggut. Aku ingin berteriak, "Akulah yang membawakanmu keindahan! Akulah yang merawat mawar-mawar itu dengan air mata dan keringat!" Tapi yang keluar hanyalah desahan angin, sentuhan dingin yang tak terasa. Suatu malam, aku melihatnya membaca wasiatku. *Yang belum selesai*. Ada satu kalimat yang belum sempat kutuliskan, satu kebenaran yang bisa membebaskanku. Aku berusaha sekuat tenaga, mengerahkan sisa-sisa energiku. Aku membisikkannya ke telinganya, berharap dia bisa mendengarnya, merasakan keberadaanku. "Yun... *aku... tidak... bunuh... diri...*" Tangannya gemetar. Air matanya jatuh membasahi kertas. Apakah dia mendengarku? Apakah dia mempercayaiku? Malam-malam berikutnya, aku melihatnya menyelidiki. Dia menemui orang-orang, mencari kebenaran di balik kematianku. Dia mulai mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle yang selama ini disembunyikan. Aku melihatnya menemukan bukti... racun di dalam botol tinta, saksi mata yang ketakutan, surat ancaman yang disembunyikan. Akhirnya, dia tahu. Dia tahu aku tidak bunuh diri. Dia tahu siapa yang membunuhku. Bukan balas dendam yang kulihat di matanya. Bukan amarah yang membara. Tapi *kelelagaan*. Keheningan malam terasa begitu damai. Beban di pundakku terasa ringan. Aku tidak lagi terikat pada dunia ini. Aku telah menuntaskan apa yang tertinggal. Aku telah menemukan kedamaian. Hujan berhenti. Bulan purnama bersinar terang, menerangi makamku. Angin bertiup lembut, membawa serta sisa-sisa keberadaanku. ...Akhirnya aku bisa pergi.
You Might Also Like: Agen Kosmetik Peluang Usaha Ibu Rumah

Share on Facebook