Baiklah, inilah cerita pendek bergaya *dracin* dengan nuansa lirih dan penyesalan, seperti yang kamu minta: **Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu** Kabut tipis menyelimuti puncak Gunung Lian. Angin dingin berdesir melewati jubah putihku, membawa aroma pinus dan ... *kenangan*. Sudah sepuluh tahun sejak hari itu. Sepuluh tahun sejak aku menggenggam pedang *warisannya*, Shuang Hua, Pedang Kembar Bunga Es. Dulu, pedang ini adalah simbol cinta dan kesetiaan. Dulu, bilahnya berkilau secerah senyumnya. Sekarang? Bilahnya dingin, membisikkan namanya dalam setiap ayunan. *Bai Lian*. Dulu, aku adalah *kesayangannya*. Dulu, aku adalah murid terbaik Sekte Qingyun. Dulu, aku percaya pada cinta abadi. Lalu… kebenaran menghantamku seperti badai salju. Dia, Bai Lian, orang yang aku cintai sepenuh hati, mengkhianatiku. Dia membunuh Shifu, guru kami, demi ambisi dan kekuasaan. Aku melihatnya. Aku mendengarnya. Tapi aku *diam*. Bukan karena aku lemah. Bukan karena aku takut. Aku diam karena sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang terukir dalam darahku, rahasia yang akan menghancurkan seluruh Sekte Qingyun jika terungkap. Aku menyembunyikan kebenaran, menanggung fitnah, dan meninggalkan sekte. Aku membiarkan Bai Lian naik tahta, menikmati kejayaan yang dibangun di atas pengkhianatan. Semua orang mengira aku pengecut, lemah, *tidak berguna*. Mereka salah. Aku hanya menunggu. Setiap malam, di bawah cahaya rembulan yang pucat, aku berlatih dengan Shuang Hua. Setiap ayunan, setiap tebasan, adalah bisikan nama Bai Lian. Bukan bisikan kebencian, tapi bisikan *takdir*. Misteri kecil mulai bermunculan. Murid-murid Sekte Qingyun menghilang secara misterius. Rumor tentang kekuatan *gelap* yang bangkit di sekitar Bai Lian mulai beredar. Aku tahu. Aku tahu dari mana kekuatan itu berasal. Dari sumpah darah yang diucapkan Bai Lian kepada *roh jahat* demi mendapatkan kekuasaan. Kekuatan yang akan menghancurkannya sendiri. Aku tahu, karena aku adalah satu-satunya yang tahu kelemahan roh itu. Aku tidak perlu melakukan apa pun. Aku hanya perlu menunggu dan *melihat*. Dan aku melihatnya. Kekuatan gelap itu memakannya dari dalam. Wajahnya yang dulu tampan menjadi keriput, matanya menjadi kosong. Kekuasaannya mulai runtuh. Murid-muridnya meninggalkannya. Akhirnya, dia sendirian. Sendirian di puncak gunung, diterpa angin dingin. Aku tidak mendatanginya. Aku tidak membalas dendam. Aku hanya merasakan *kesedihan yang mendalam*. Takdir telah melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Takdir telah menghukum Bai Lian lebih berat dari yang pernah kubayangkan. Aku menggenggam Shuang Hua. Bilahnya bergetar, seolah memohon untuk mengakhiri penderitaan Bai Lian. Tapi aku *tidak bisa*. Aku tidak akan mengotori tanganku dengan darahnya. Bai Lian akan hidup dengan penyesalannya. Bai Lian akan hidup dengan kesepiannya. Bai Lian akan hidup… ... *menunggu*. Dan kemudian, sebuah surat datang. Surat dari seorang murid muda Sekte Qingyun, yang menyelipkan rahasia mengerikan: Bai Lian bukan penyebab Shifu meninggal. Justru Shifu meminta Bai Lian membunuhnya, demi mencegah kebangkitan kekuatan *tergelap* di dalam sekte. Sebuah kekuatan yang… terhubung langsung dengan rahasia di dalam darahku. Angin di Gunung Lian berteriak, seolah alam semesta menertawakan ironi ini. Selama ini, aku menyembunyikan kebenaran untuk melindungi orang lain. Tapi ternyata, aku menyembunyikan kebenaran untuk *melindungi diriku sendiri*. Aku masih menggenggam Shuang Hua. Kali ini, bilahnya tidak menyebut nama Bai Lian. Kali ini, bilahnya… *membisikkan namaku*. Dan aku tahu, perjalananku baru saja dimulai...
You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Sampingan

Share on Facebook