**Air Mata yang Menjadi Embun Pagi** Angin mengelus rambut Lan, selembut sentuhan tangan kakaknya, Jie. Dulu. Sekarang, angin terasa dingin, menusuk tulang, seperti tatapan Jie padanya belakangan ini. Mereka tumbuh bersama di Lembah Seribu Bunga, bagai dua tunas yang berpegangan erat melawan badai. Lan, si bungsu yang lincah dan ceria, dan Jie, sang kakak yang tenang dan bijaksana, selalu saling melindungi. Janji darah terukir di hati mereka: takkan ada rahasia di antara kita. Namun, janji itu kini hancur bagai kaca yang terhempas. "Jie," panggil Lan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh air terjun. "Kenapa kau menjauh?" Jie berbalik, senyum tipis mengembang di bibirnya. Senyum yang dulu selalu menghangatkan hati Lan, kini terasa bagai topeng. "Menjauh? Kau terlalu sensitif, Lan. Kita hanya sedang sibuk." Sibuk? Sibuk menghindarinya? Sibuk menyembunyikan sesuatu? Lan merasakan duri tajam menusuk dadanya. Sejak kedatangan utusan dari Istana Naga Hitam, Jie berubah. Sikapnya dingin, rahasia, dan matanya menyimpan badai yang tak bisa Lan pahami. "Utusan itu… apa yang dia katakan padamu?" tanya Lan, berani melawan rasa takut yang mencekiknya. Jie tertawa, tawa yang terdengar hampa. "Rahasia Negara, Lan. Bukan urusanmu." *RAHASIA*? Kata itu bagai pukulan telak. Dulu, semua urusan Jie adalah urusannya. Dulu, mereka berbagi mimpi dan ketakutan, tanpa terkecuali. Malam-malam berikutnya, Lan mengintai. Dia melihat Jie bertemu dengan utusan itu secara diam-diam di Hutan Bambu Berduri. Dia mendengar bisikan-bisikan tentang *pengkhianatan*, tentang *darah*, tentang *warisan yang dicuri*. Kepingan-kepingan kebenaran mulai tersusun, membentuk gambaran mengerikan. Jie… Jie terlibat dalam perebutan takhta di Istana Naga Hitam. Jie adalah pewaris sah yang diasingkan, dan dia berencana merebut kembali haknya dengan cara *apapun*. Bahkan, jika itu berarti mengorbankan orang-orang di sekitarnya. Termasuk Lan. Pengkhianatan itu bagai pisau berkarat yang ditusukkan ke jantungnya. Lan ingat janji darah mereka, janji yang kini terasa bagai kutukan. Dia ingat bagaimana Jie selalu melindunginya, bagaimana Jie selalu mengajarinya, bagaimana Jie selalu menjadi dunianya. Semua itu *bohong*? Malam itu, Lan menghadang Jie di Jembatan Pelangi. Hujan turun deras, membasahi wajah mereka. "Aku tahu," kata Lan, suaranya bergetar. "Aku tahu semuanya, Jie." Jie terdiam. Senyumnya hilang, digantikan ekspresi dingin yang menakutkan. "Kau seharusnya tidak tahu, Lan." "Kenapa, Jie? Kenapa kau melakukan ini? Apa artinya semua janji kita?" air mata Lan bercampur dengan air hujan, membentuk sungai kecil di pipinya. "Janji adalah janji," jawab Jie, dingin. "Tapi kekuasaan adalah kekuasaan. Dan aku akan melakukan *apapun* untuk mendapatkannya." Kemudian, Jie mencabut pedangnya. Kilatan perak menembus kegelapan malam. Lan terkejut, terluka, namun masih mampu membalas. Pertarungan pun terjadi, diiringi gemuruh hujan dan jeritan angin. Dua saudara, dua teman, dua sekutu… kini menjadi musuh bebuyutan. Di akhir pertarungan, Lan berdiri di atas tubuh Jie yang terkapar. Pedangnya berlumuran darah. Jie menatapnya dengan mata yang memancarkan penyesalan… atau mungkin kebencian. "Aku… selalu menyayangimu, Lan," bisik Jie, suaranya melemah. Lan berjongkok, air matanya kembali membasahi wajahnya. "Kenapa, Jie? Kenapa harus jadi seperti ini?" Jie tersenyum pahit. "Karena… rahasia *selalu* punya harga." Lan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap untuk membalaskan dendamnya. Siap untuk menghancurkan Istana Naga Hitam. Siap untuk menanggung beban pengkhianatan ini seumur hidupnya. Namun, sebelum pedangnya menebas, Jie berbisik, "... *Akulah yang seharusnya mati sejak dulu...* "
You Might Also Like: Aku Mencintaimu Bahkan Setelah Dunia

Share on Facebook