**Cinta yang Menghapus Nama Dewa** Embun pagi merayapi kelopak teratai di Danau Jiwa, sejuk dan menenangkan, namun tidak mampu mendinginkan bara di dada Lin Yue. Tujuh belas tahun. Tujuh belas tahun ia hidup dalam kepalsuan, bersembunyi di balik jubah kebesaran Sekte Bulan Purnama, menyandang nama yang bukan miliknya. Lin Yue, yang seharusnya bernama Ling Xi, pewaris sah Takhta Naga yang dirampas oleh pamannya yang kejam. Hidup Lin Yue adalah tarian di atas pecahan kaca. Satu kesalahan kecil saja bisa membongkar kedoknya dan membawanya ke gerbang kematian. Namun, ada satu hal yang membuatnya bertahan: keyakinan bahwa suatu hari nanti, ia akan merebut kembali haknya. Lalu, ia datang. Xiao Chen, seorang pendekar pedang pengembara dengan mata setajam elang dan senyum semanis madu. Ia adalah **_pemburu kebenaran_**, seorang idealis yang tak kenal lelah mencari keadilan di dunia yang penuh dengan kebusukan. Xiao Chen datang ke Sekte Bulan Purnama untuk menyelidiki kematian ayahnya, seorang pendekar legendaris yang dituduh berkhianat pada sekte tersebut. Lin Yue, yang awalnya curiga dan waspada, perlahan-lahan terpikat oleh kejujuran Xiao Chen. Ia melihat secercah harapan dalam mata Xiao Chen, secercah keadilan yang selama ini ia dambakan. Mereka berdua menjadi dekat, rahasia-rahasia yang terpendam mulai terkuak, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, cinta mereka adalah racun. Semakin dekat mereka, semakin dalam Lin Yue terjerat dalam dilema. Ia tahu bahwa kebenaran yang dicari Xiao Chen akan menghancurkan segalanya. Kebenaran tentang siapa dirinya, kebenaran tentang pengkhianatan pamannya, dan kebenaran tentang kematian ayah Xiao Chen sendiri – sebuah kebenaran yang ***TERUKIR DALAM DARAH** Takhta Naga. "Aku mencintaimu, Yue," bisik Xiao Chen suatu malam di bawah rembulan. Kata-kata itu menghantam Lin Yue seperti badai. "Jangan," jawab Lin Yue dengan suara bergetar. "Jangan pernah mengatakannya. Cinta ini… ***HARAM**.*" Saat Xiao Chen semakin mendekati kebenaran, Lin Yue semakin kalut. Ia mencoba mengalihkan perhatian Xiao Chen, menyembunyikan bukti-bukti, bahkan berbohong padanya. Namun, Xiao Chen bukan orang bodoh. Ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Lin Yue, dan ia bertekad untuk mengungkapnya. Puncaknya terjadi saat Xiao Chen menemukan surat wasiat ayahnya, surat yang mengungkap kebenaran tentang pengkhianatan Sekte Bulan Purnama dan perampasan Takhta Naga. Di surat itu, tertulis nama Lin Yue, atau lebih tepatnya, Ling Xi, sebagai pewaris sah. Xiao Chen merasa **DIKHIANATI**. Ia memandang Lin Yue dengan tatapan terluka dan penuh amarah. "Jadi, selama ini kau berbohong padaku?" Lin Yue tidak bisa menjawab. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia tahu, semuanya telah berakhir. Xiao Chen pergi, meninggalkan Lin Yue seorang diri dalam kehancuran. Namun, ia tidak menyerah. Ia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk membalas dendam dan merebut kembali haknya. Ia menggunakan semua yang telah ia pelajari dari Xiao Chen, semua kelemahan pamannya yang ia ketahui, untuk merencanakan pembalasan yang sempurna. Pada malam bulan purnama, Lin Yue menghadapi pamannya di aula utama Sekte Bulan Purnama. Pertempuran sengit terjadi, darah tumpah di mana-mana. Pada akhirnya, Lin Yue berhasil mengalahkan pamannya dan merebut kembali Takhta Naga. Saat pamannya terbaring sekarat di kakinya, Lin Yue menatapnya dengan dingin. "Kau telah menghancurkan hidupku, pamanku. Sekarang, giliranmu yang merasakan kehancuran." Ia mengangkat pedangnya dan menebas leher pamannya. Kepala pamannya menggelinding ke lantai, darah menyembur ke mana-mana. Lin Yue merebut kembali Takhta Naga, tetapi dengan harga yang sangat mahal. Ia kehilangan cinta Xiao Chen, ia kehilangan identitasnya, dan ia kehilangan hatinya. Ia menjadi seorang Kaisar yang kejam dan dingin, memerintah dengan tangan besi dan tanpa ampun. Bertahun-tahun kemudian, seorang pengembara pedang terlihat di perbatasan kerajaan. Ia tersenyum tipis, senyum yang menyimpan perpisahan. "Keadilan telah ditegakkan," gumamnya pelan. Lin Yue, yang sekarang menjadi Kaisar Ling Xi, menatap ke arah matahari terbenam. Bayangannya memanjang di tanah, semakin gelap dan menakutkan. Apakah balas dendam benar-benar membawa kedamaian, atau justru hanya meninggalkan kehampaan yang abadi?
You Might Also Like: 156 Jaguar Models Current Lineup And

Share on Facebook