**Kau Menatapku di Tengah Upacara** Tabir sutra merah menjuntai anggun, berayun lembut mengikuti irama *guzheng* yang mendayu. Aroma dupa sandalwood memenuhi udara, menyelimuti Aula Keabadian dengan khidmat. Hari ini, seharusnya menjadi hari bahagiaku. Hari di mana aku, Meiying, putri bungsu Jenderal Zhao, dipersunting Pangeran Li Wei, pewaris tahta kekaisaran. Namun, di tengah gemerlap upacara, di antara deretan wajah yang tersenyum palsu dan bisikan pujian yang hambar, mataku bertemu dengan mata Li Wei. Bukan sorot cinta yang kudambakan, bukan pula janji setia yang ia ucapkan di bawah rembulan purnama. Melainkan, sorot dingin, *terkalkulasi*, dan—yang paling menyakitkan—penolakan. Mata kita berbicara lebih jujur dari sumpah. Aku mengerti. Semua ini, sandiwara belaka. Perkawinan ini, bukan didasari cinta, melainkan ambisi. Aku, hanyalah pion dalam permainan kekuasaannya. Senyumku adalah topeng. Elegansi gerakku, pertahanan diri. Aku berjalan dengan anggun menuju altar, menerima cawan arak dari tangannya. *Arak pengkhianatan*, pikirku pahit. "Untuk keabadian cinta kita," ujarnya, suara baritonnya begitu meyakinkan bagi telinga orang lain. Aku mengangkat cawan, membalas tatapannya. "Untuk keabadian..." bisikku pelan, "janji." Pelukannya selama upacara terasa *beracun*. Setiap sentuhan, setiap bisikan mesra, bagai belati yang perlahan mengoyak hatiku. Aku, Meiying, wanita yang mencintai Li Wei dengan segenap jiwa, kini menjadi Meiying yang lain. Meiying yang terluka, namun takkan menunjukkan lukanya. Beberapa tahun berlalu. Li Wei naik tahta, menjadi kaisar yang disegani. Aku, permaisurinya, Ratu Meiying, menjadi simbol kekuasaan dan keanggunan. Istana kita megah, dipenuhi intrik dan ambisi. *Dan aku, menguasai permainan ini*. Aku tidak menuntut. Aku tidak mengeluh. Aku hanya memberikan apa yang ia inginkan: pewaris tahta, dukungan para bangsawan, stabilitas kekaisaran. Namun, di balik senyumku yang menawan, aku merencanakan balas dendam. Bukan dengan pedang, bukan dengan darah. Melainkan, dengan *penyesalan*. Aku memastikan setiap keputusannya, setiap kebijakan pemerintahannya, dibayangi oleh keraguan. Aku membisikkan saran yang tampak bijaksana, namun diam-diam merongrong kekuatannya. Aku menanam benih ketidakpercayaan di antara para menterinya. Perlahan, namun pasti, kekaisarannya mulai runtuh. Bukan karena serangan musuh, melainkan karena **kerapuhan internal**. Di akhir hayatnya, ketika ia terbaring lemah di ranjang istana, dikelilingi para tabib yang tak berdaya, ia menatapku. Mata itu, yang dulu begitu dingin, kini dipenuhi ketakutan. "Meiying..." lirihnya, "mengapa?" Aku tersenyum lembut, mengusap dahinya dengan kain basah. "Karena, Li Wei, janji yang kau ingkari, akan menghantuimu selamanya." Ia menutup mata. Napas terakhirnya mengembus dengan penyesalan. Aku, Ratu Meiying, berdiri di atas abu kerajaannya, *tenang*. Balas dendamku terasa manis, sekaligus pahit. Aku telah membalas pengkhianatannya, namun hatiku tetap kosong. Dan aku menyadari, cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama…
You Might Also Like: Greetings Adventurers Youve Just

Share on Facebook