## Cinta yang Hidup di Antara Dua Dunia **SUARA** biola yang melengking membelah keheningan malam di Shanghai. Mei Lan, dengan gaun cheongsam sutra berwarna *zamrud*, duduk di balkon apartemennya yang modern. Di balik gemerlap lampu kota, samar-samar ia melihat bayangan Pagoda Giok yang dulu menjulang di tengah kota kekaisaran. Bayangan itu, entah mengapa, selalu menghantuinya. Setiap malam, ia bermimpi tentang dirinya sebagai **PERMAISURI**. Istana megah, intrik politik, dan seorang *kaisar* yang mencintainya dengan gila. Namun, mimpi itu selalu berakhir dengan pengkhianatan. Racun dalam cawan anggur. Senyuman sinis dayang kesayangan yang selama ini ia anggap sahabat. Mei Lan, di kehidupan ini, adalah seorang desainer grafis sukses. Ia mencintai kebebasan, membenci kekangan. Lalu, mengapa mimpi-mimpi itu terasa begitu nyata? Mengapa hatinya berdenyut nyeri setiap kali melihat lukisan kaisar dari Dinasti Tang? Suatu hari, seorang kolektor barang antik bernama Li Wei datang ke kantornya. Mata Li Wei terasa *FAMILIAR*. Suaranya bagai gema masa lalu. Pria itu membawa artefak kuno yang harus Mei Lan desain untuk katalog pameran. Salah satunya adalah kalung giok berbentuk naga, persis seperti yang selalu ia kenakan dalam mimpinya. Sentuhan pada kalung itu membangkitkan *KENANGAN*. Bayangan berkelebat: wajah dayang itu, Li Hua, yang tersenyum saat menyerahkan cawan berisi racun. **LI HUA!** Di kehidupan ini, Li Wei menyebutkan nama tunangannya, Lin Hua, seorang model terkenal. Dunia Mei Lan terasa berputar. *Lin Hua*. Di kehidupan lampau, ia adalah racun. Di kehidupan ini, ia adalah ancaman. Bukan ancaman fisik, melainkan ancaman *EMOSIONAL* bagi Li Wei, pria yang di dalam hatinya Mei Lan yakini sebagai reinkarnasi kaisarnya. Mei Lan tidak merencanakan balas dendam. Tidak secara langsung. Ia hanya memutuskan untuk tidak mendesain katalog itu. Proyek yang seharusnya mengangkat nama Lin Hua ke puncak popularitas harus dibatalkan. Sebuah keputusan kecil, namun dengan konsekuensi *DAHSYAT* yang mengubah arah takdir. Saat Li Wei menatapnya dengan bingung, Mei Lan hanya tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan *RAHASIA* ribuan tahun. Senyum seorang permaisuri yang akhirnya menemukan kedamaian dalam keputusan yang *BIJAKSANA*. "Mungkin... lain kali." …dan seribu tahun lagi mungkin akan berlalu sebelum kita benar-benar bertemu, KEKASIH.
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bimbingan Bisnis

Share on Facebook