**Pelukan yang Menjadi Doa Terakhir** Aroma *mei hua* memenuhi udara, menusuk hidung Lin Wei. Ia berdiri di tepi Jembatan Pelangi, menatap sungai berkilauan yang membelah kota kuno. Usianya baru 20 tahun, namun ada kerinduan purba dalam matanya, seolah ia menyimpan memori ribuan musim gugur. Ia melukis. Bukan pemandangan di depannya, melainkan bayangan-bayangan *asing* yang menghantuinya: istana megah, jubah sutra, dan wajah-wajah yang samar. "Wei Wei, kau melamun lagi?" suara lembut memecah lamunannya. Huang Jin, sahabatnya, menyentuh pundaknya. Wei Wei tersenyum tipis. Jin selalu ada. Jin yang ceria, Jin yang tanpa pamrih. Tapi entah mengapa, kehadiran Jin justru memicu perasaan aneh – sesuatu yang terasa *familiar* namun menyakitkan. Sejak kecil, Wei Wei kerap mengalami *deja vu* yang intens. Ia merasa pernah hidup sebelumnya. Seorang putri, mungkin? Atau seorang selir yang dicintai? Semakin ia mencoba mengingat, semakin sakit kepalanya. Dokter bilang itu hanya imajinasi berlebihan, efek samping dari bakat seninya yang luar biasa. Tapi Wei Wei tahu, ini lebih dari sekadar imajinasi. Suatu malam, di bawah rembulan purnama, Wei Wei bermimpi. Ia melihat dirinya, berpakaian kebesaran ratu, memeluk seorang pria di taman istana. Pria itu tertawa, lalu menciumnya. Di mata pria itu, Wei Wei melihat... **KETULUSAN YANG MENIPU!** Dalam mimpi itu, ia melihat pengkhianatan. Tikaman di punggung, racun dalam anggur, dan senyum sinis pria yang ia cintai. *Pria itu adalah kaisar. Dan dia...* adalah ratu yang digulingkan demi wanita lain, wanita yang haus kekuasaan. Keesokan harinya, Wei Wei menggambar. Ia menggambar pria dalam mimpinya. Selesai menggambar, ia tersentak. Wajah itu... *Itu wajah Ayah Jin*. Tidak mungkin. Jin terlalu baik. Ayahnya adalah sosok yang penyayang dan bijaksana. Tapi gambar itu... *GAMBAR ITU TIDAK BERBOHONG*. Beberapa hari kemudian, Jin memperkenalkan tunangannya, Xiao Mei, kepada Wei Wei. Xiao Mei cantik, anggun, dan ambisius. Sesuatu dalam diri Wei Wei berteriak. Ia tahu, Xiao Mei adalah wanita yang menjadi penyebab kematiannya di kehidupan sebelumnya. Di pesta pertunangan, Wei Wei melihat kesempatan. Ayah Jin memberinya segelas anggur. Senyumnya hangat, namun mata Wei Wei melihat *kelicikan*. Ini adalah momennya. Balas dendamnya bukan dengan racun atau pedang. Balas dendamnya adalah... **KEBEBASAN**. Wei Wei meminum anggur itu. Rasanya manis, namun pahit. Ia menatap Jin, lalu Xiao Mei. "Selamat," bisiknya. Kemudian, ia menatap Ayah Jin. Sorot matanya dingin dan menusuk. "Aku mengerti sekarang." Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan pesta itu. Ia tahu, dengan mengungkap kebenaran tentang kehidupan sebelumnya, ia telah mengubah takdir mereka. Xiao Mei tidak akan pernah menjadi permaisuri. Jin tidak akan pernah merasakan kehangatan takdir kaisar. Dan Ayah Jin... akan hidup dengan penyesalan selamanya. Di tepi Jembatan Pelangi, Wei Wei berhenti. Ia memejamkan mata. *Pelukan Jin...* terasa seperti doa terakhir. Doa untuk kehidupan baru, tanpa dendam. Ia membuka mata. "Aku akan menunggumu, di kehidupan selanjutnya..."
You Might Also Like: Tips Skincare Lokal Untuk Kulit Pria

Share on Facebook