## Ratu yang Menyembunyikan Luka di Balik Senyum **Tirai sutra** senja melukis langit dengan warna _jingga berdarah_ dan lembayung duka. Di Istana Bulan, Ratu Lan Yue, dengan senyum selembut kabut pagi di atas Danau Zamrud, duduk bersimpuh di hadapan cermin purba. Cermin itu, konon, menyimpan _kisah-kisah yang tak sempat terucap, cinta yang tak berani diungkap_. Lan Yue, sang ratu yang berkuasa dengan kebijaksanaan setajam pedang terhunus, menyembunyikan lautan badai di balik matanya yang teduh. Senyumnya, seindah bunga plum yang merekah di tengah salju, adalah topeng yang melindungi hatinya yang remuk redam. Orang-orang hanya melihat *keagungan*, *kekuatan*, *keadilan*. Tak seorang pun tahu, di balik tahta yang megah, bersemayam seorang wanita yang merindukan sentuhan kasih. Di antara deretan lukisan gulung yang menghiasi dinding istana, tersimpan potret seorang pria. Wajahnya **terpatri** dengan garis tegas seorang ksatria, matanya memancarkan keberanian seberani elang yang terbang menantang badai. Ia adalah Jenderal Zhi Xuan, *pahlawan yang hilang dalam kabut peperangan*, kekasih hati Lan Yue yang direnggut takdir. Cinta mereka adalah bisikan rahasia di antara pepohonan bambu, tatapan curi di tengah hiruk pikuk istana, janji suci yang terukir di bawah rembulan purnama. Sebuah cinta yang terlalu **suci** untuk dijamah dunia fana, terlalu **indah** untuk dipertahankan. Lan Yue seringkali bermimpi tentang Zhi Xuan. Dalam mimpinya, mereka berlari di ladang bunga persik yang tak berujung, tertawa riang di bawah guyuran hujan meteor, berdansa diiringi alunan kecapi yang dimainkan angin. Mimpi-mimpi itu adalah pelipur lara, namun juga racun yang menggerogoti jiwanya. Bertahun-tahun berlalu. Istana Bulan tetap berdiri kokoh, menyaksikan Lan Yue memimpin kerajaannya dengan tangan besi. Namun, senyumnya semakin tipis, matanya semakin sayu. Orang-orang mulai berbisik tentang 'Ratu yang kehilangan cahayanya'. Suatu malam, di tengah badai petir yang menggelegar, Lan Yue kembali bermimpi tentang Zhi Xuan. Namun, kali ini berbeda. Zhi Xuan tidak tersenyum. Matanya penuh duka, suaranya lirih, "Lan Yue... aku tidak mati di medan perang. Aku dikhianati... oleh **dirimu sendiri**." Ratu Lan Yue terbangun dengan jeritan tertahan. Di tangannya tergenggam seuntai **kalung giok** yang familiar kalung yang dulu ia berikan kepada Zhi Xuan sebagai tanda cintanya. Di kalung itu, terukir sebuah simbol rahasia: *lambang keluarga kerajaan yang mengkhianati Zhi Xuan demi mengamankan tahta.* ***Misteri terpecahkan. Kebenaran terungkap. Namun, keindahan cinta mereka yang dulu begitu agung, kini hancur berkeping-keping, meninggalkan luka yang tak tersembuhkan.*** _Apakah suara kecapi itu benar-benar melodi cinta, atau hanya ratapan angin malam?_
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Lokal Dengan

Share on Facebook