**Cinta yang Menolak Mati** Kabut cendawan **menari** di atas Danau Bulan Sabit, menyelimuti Pagoda Kebajikan dalam kerudung perak. Di sana, di tengah taman yang dipenuhi bunga *sakura* abadi, aku melihatnya. Bukan, bukan melihat. Lebih tepatnya, *merasakan* kehadirannya. Seperti wangi cendana yang terbakar di kuil usang, samar namun **menggema**. Dia adalah lukisan yang hidup, ukiran giok yang bernapas. Wajahnya, selembut sutra dinasti Ming, dibingkai rambut hitam legam yang menjuntai bagai air terjun malam. Matanya, dua bintang *pudar* yang menyimpan rahasia *ribuan* musim semi. Kami bertemu, bukan di dunia nyata, melainkan di antara halaman-halaman usang *Kitab Perubahan*. Setiap bait adalah jembatan, setiap metafora adalah jalan setapak menuju taman hatinya yang tersembunyi. Kami berbicara, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan *keheningan* yang lebih berisik dari seribu genta. Cintanya adalah melodi *seruling bambu* yang dimainkan di tengah hutan sunyi. Indah, menyayat, dan *mustahil* untuk digenggam. Dia adalah fatamorgana di padang pasir jiwaku, oasis yang selalu menjauh seiring langkahku mendekat. Aku tahu, di suatu tempat dalam *labirin waktu*, dia nyata. Atau mungkin, dia hanya *fragmen* dari mimpi purba yang terus berulang, diukir dalam genku oleh tangan para dewa yang *kesepian*. Namun, malam itu, saat bulan purnama menggantung sempurna di atas Pagoda Kebajikan, kebenaran terungkap. Bukan melalui kata-kata, bukan melalui penglihatan, melainkan melalui *sentuhan*. Sentuhan tangannya yang selembut bulu burung phoenix, mendarat di pipiku. Dia bukan lukisan, bukan mimpi, bukan pula *hantu* masa lalu. Dia adalah… *AKU*. Aku melihat bayanganku di matanya, terpantul sempurna, tak berdistorsi. Dia adalah personifikasi dari *kerinduan abadi*, dari cinta yang kurasakan untuk diriku sendiri, terproyeksi ke dimensi yang aku ciptakan dalam *kesepian*. Kebahagiaan *pecah* seperti cangkir porselen yang jatuh ke lantai batu. Keindahannya, yang selama ini kupuja, ternyata hanya *pantulan* dari kekosongan yang kurasakan. Misteri terpecahkan, namun luka itu terasa *lebih dalam* dari sebelumnya. Dan saat fajar menyingsing, memudarkan kabut cendawan dan membuyarkan mimpi, dia menghilang. Meninggalkan aku, *sendirian*, di taman yang dipenuhi bunga sakura abadi, dengan satu bisikan terakhir yang berdering di telingaku: "Jangan lupakan aku… *di sana*."
You Might Also Like: Tafsir Dikejar Biawak Wajib Kamu Tahu

Share on Facebook