Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya *dracin* berjudul 'Bayangan yang Menemukan Rumahnya': **Bayangan yang Menemukan Rumahnya** Lentera istana memancarkan cahaya redup, menari-nari di dinding bagaikan kenangan yang enggan pergi. Di balkon paviliun yang terpencil, Jingyi berdiri. Siluetnya ramping, tertelan malam. Gaun sutra hijaunya yang dulu selalu dipuji kaisar, kini terasa seperti kain kafan yang membungkus hatinya. Lima tahun lalu, ia adalah permaisuri kesayangan. Kecantikannya bagai lukisan dewi, kebijaksanaannya melampaui usianya. Kaisar, Zhao Lian, mencintainya dengan begitu *MEMBARA*. Tapi, api itu padam oleh hembusan angin pengkhianatan. Adiknya, Meilin, selir yang dulunya begitu manis dan penurut, kini merebut segalanya. Jingyi tidak melawan. Ia tidak berteriak, tidak menuntut keadilan. Ia hanya *DIAM*. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan seluruh dinasti Zhao. Rahasia tentang kelahiran kaisar yang sebenarnya. Setiap malam, ia mendengar tawa Meilin dan Zhao Lian dari kejauhan. Tawa kemenangan, tawa kebahagiaan yang dibangun di atas reruntuhan hatinya. Ia tidak iri. Ia hanya merasa *SANGAT* lelah. Satu-satunya hiburannya adalah guqin tuanya. Melodi yang mengalun dari senar-senar kuno itu bagaikan curahan jiwanya. Lirih, penuh penyesalan, namun juga menyimpan kekuatan tersembunyi. Suatu hari, seorang kasim muda, Hu Wei, datang menemuinya. Ia membawa sekuntum bunga *mei*, bunga plum yang dulu selalu dipetikkan Zhao Lian untuk Jingyi. Hu Wei berbisik, "Permaisuri Jingyi, maafkan aku atas semua yang terjadi. Kaisar… dia… dia diperdaya." Jingyi menatap mata Hu Wei yang penuh ketakutan. Ada sesuatu yang disembunyikan kasim itu. Perlahan, misteri itu mulai terkuak. Meilin tidak hanya merebut tahta permaisuri, ia juga meracuni Zhao Lian dengan ramuan yang membuatnya tunduk sepenuhnya pada kehendaknya. Ramuan yang juga perlahan-lahan membunuhnya. Jingyi tidak melakukan apa pun. Ia hanya memainkan guqinnya lebih sering. Melodinya semakin pilu, namun di balik kesedihan itu, tersimpan nada *KEPASTIAN*. Waktu berlalu. Meilin semakin berkuasa, namun kesehatannya semakin memburuk. Zhao Lian, yang matanya redup oleh pengaruh racun, mulai batuk darah. Istana dilanda ketakutan. Lalu, tibalah hari itu. Meilin, dalam keadaan sekarat, memanggil Jingyi. Dengan suara serak, ia mengakui segalanya. Ia merebut, ia meracun, ia berbohong. Semuanya demi *KEKUASAAN*. Jingyi hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Rahasia yang selama ini ia simpan, kini menjadi *SENJATA* terampuh. Ia tahu, tanpa mengungkap kebenaran tentang kelahiran Zhao Lian, Meilin tidak akan pernah tenang. Meilin mati dengan mata terbelalak, penuh penyesalan dan ketakutan. Zhao Lian, yang akhirnya terbebas dari pengaruh racun, menatap Jingyi dengan tatapan kosong. Ia tahu, ia telah kehilangan segalanya. Tak lama kemudian, Zhao Lian jatuh sakit dan meninggal dunia. Tahta jatuh ke tangan pewaris yang sah, seseorang yang bahkan tidak pernah ia duga. Seseorang yang *DIA* lindungi selama ini. Jingyi, yang kini bebas dari belenggu istana, meninggalkan paviliun itu. Ia berjalan menuju matahari terbit, meninggalkan bayang-bayang masa lalu di belakangnya. Balas dendamnya telah selesai. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan pertumpahan darah, tapi dengan takdir yang berbalik arah. Pahit, namun indah. Dan yang tertinggal hanyalah aroma bunga *mei* yang berdesir lembut di udara, seolah membisikkan: *Apakah kebahagiaan sejati itu ada, setelah semua yang terjadi?*
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Passive Income Di

Share on Facebook