Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Senyum yang Menyimpan Nama Musuh', dengan semua elemen yang Anda minta: **Senyum yang Menyimpan Nama Musuh** Hujan abu selalu menyelimuti Kota Seribu Lentera. Mei Lan, dengan *payung sutra* berhiaskan burung phoenix, berjalan di antara hiruk pikuk pasar. Ia tidak ingat masa lalunya, hanya serpihan mimpi tentang istana megah dan pengkhianatan. Namun, setiap kali melewati toko ramuan herbal, hatinya berdenyut aneh, seolah ada ingatan yang *terkubur dalam* di sana. Dunia ini terasa asing, meski begitu familiar. Gadis-gadis berpakaian modern berpapasan dengannya, senyum mereka cerah, tanpa beban. Mei Lan iri. Ia merasa *ada beban berat* yang tak terlihat di pundaknya. Suatu hari, seorang pria muda bernama Jian mendekatinya. Jian adalah pemilik toko teh di ujung jalan. Senyumnya hangat, matanya teduh. Mei Lan merasa nyaman berada di dekatnya. Namun, setiap kali Jian menyebut nama keluarganya—**Wei**, jantung Mei Lan berdebar kencang. *Wei*. Nama itu... terasa seperti belati dingin di hatinya. Malam demi malam, mimpi-mimpi itu datang lebih jelas. Ia melihat dirinya, Putri Lin Yue, berdiri di balkon istana, menyaksikan kekasihnya, Jenderal Wei, memimpin pasukan pemberontak memasuki gerbang. Wei, yang berjanji setia sehidup semati, ternyata bersekongkol dengan musuh. *Dikhianati*. Putri Lin Yue ditikam dari belakang, jatuh dari balkon, dan dunia menjadi gelap. "Wei..." bisik Mei Lan di tengah malam. Sekarang ia ingat. Semua kepingan ingatan itu menyatu. Jenderal Wei di kehidupan lampau adalah Jian Wei, pemuda yang menawarkan teh hangat dan senyuman tulus. Balas dendam bukanlah pilihannya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu. Alih-alih, Mei Lan memutuskan untuk menjauh. Ia tahu, Jian tidak ingat apa pun. Ia *berhak* memulai kehidupan baru. Tapi, Mei Lan juga berhak menentukan takdirnya sendiri. Ia meninggalkan Kota Seribu Lentera tanpa sepatah kata pun. Ia pergi ke desa terpencil di pegunungan, menjadi guru bagi anak-anak. Jian mungkin akan mencarinya, mungkin tidak. Yang terpenting, ia telah melepaskan diri dari rantai kebencian. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia mengirimkan surat anonim kepada keluarga Jian, mengungkap kebenaran tentang transaksi ilegal yang selama ini mereka lakukan. Bukan darah yang tertumpah, tapi bisnis yang hancur. Balas dendam yang *halus*. Mei Lan tersenyum. Senyumnya kali ini tulus, meski menyimpan nama musuh yang *dilupakan*. Di bawah *rembulan pucat*, ia menatap bintang-bintang. "Kita akan bertemu lagi, di kehidupan yang lain, Wei…" *dan saat itu, mungkin, kisahnya baru akan dimulai.*
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Membunuh Kura Kura Simak
Share on Facebook