Oke, siap! Inilah kisah dracin absurd berjudul 'Kau Mencium Tangannya, Tapi Menggenggamku di Hati': *** **Kau Mencium Tangannya, Tapi Menggenggamku di Hati** Layar ponselku berkedip, menampilkan notifikasi usang: "Sedang mengetik...". Sudah tiga bulan notifikasi itu menggantung, seperti janji yang tak pernah ditepati. Di dunia yang retak ini, di mana sinyal hilang lebih sering daripada ucapan 'aku cinta kamu', aku, Lin, hidup dalam masa depan yang suram. Langit menolak pagi, hanya menyisakan senja abadi yang mewarnai gedung-gedung pencakar langit dengan rona tembaga. Aku mencari sosoknya di antara pecahan kode dan debu digital. Dia, Zhang Wei, hidup di masa lalu, dalam era ketika surat masih ditulis tangan dan pertemuan tatap muka lebih berharga dari ribuan *likes* di media sosial. Aku tahu dia ada di suatu tempat, terpancar melalui transmisi frekuensi rendah yang kupungut dari puing-puing satelit. Dia mengirimkan pesan, bukan melalui chat, melainkan melalui _puisi_. Puisi yang mengalir dari tinta dan kertas, terbawa angin waktu, dan sampai kepadaku dalam bentuk glitch yang indah. "Bunga sakura berguguran di sungai Huangpu, Lin," tulisnya. "Setiap kelopaknya membawa bisikan namamu. Di sini, matahari masih terbit, dan aku… aku merindukanmu." Aku membalasnya dengan suara. Suara yang direkam dengan hati-hati, disisipi suara bising statis, dan dikirim melalui gelombang elektromagnetik yang hampir punah. "Zhang Wei," balasku. "Di sini, sakura hanya ada dalam memori. Tapi bayanganmu… *bayanganmu menari di setiap sudut kota yang hilang ini*." Kami terus bertukar pesan, dua jiwa yang terjebak dalam dimensi yang berbeda, terhubung oleh benang merah kerinduan yang tak terputus. Aku membayangkan dia, berdiri di bawah pohon sakura yang mekar sempurna, senyumnya secerah mentari pagi. Dia membayangkan aku, berjuang melewati reruntuhan dunia, mata penuh harapan meski dikelilingi kegelapan. Suatu malam, aku berhasil merekonstruksi _gambar_ dirinya dari potongan-potongan data yang berserakan. Dia mengenakan kemeja putih, memegang seikat bunga lili putih. Di belakangnya, seorang wanita, anggun dan cantik, menggandeng lengannya. Dia mencium tangan wanita itu. ***HATIKU HANCUR***. Namun, ada yang aneh. Wajah wanita itu buram, seperti lukisan yang belum selesai. Zhang Wei tersenyum, tapi matanya… matanya mencari sesuatu, atau _seseorang_, yang tidak ada di sana. Aku menggali lebih dalam, menyusuri labirin memori yang tersimpan dalam hard drive kuno. Dan kemudian, aku menemukannya. Sebuah artikel berita lama, yang menceritakan tentang seorang ilmuwan muda bernama Zhang Wei, yang menciptakan mesin waktu untuk menyelamatkan kekasihnya, seorang seniman bernama Lin, dari kecelakaan tragis. Zhang Wei berhasil kembali ke masa lalu, tapi ada konsekuensi yang mengerikan. Setiap kali dia mengubah masa lalu, realitasnya menjadi kabur, identitasnya terfragmentasi. Wanita yang dia cium tangannya bukanlah kekasihnya, melainkan konstruksi memori, hantu dari kehidupan yang seharusnya dia jalani. _Kau mencium tangannya, Zhang Wei, tapi kau menggenggamku di hati_. Aku adalah alasanmu melakukan perjalanan ini. Aku adalah alasanmu ada. Aku adalah *ECHO* dari dirimu yang hilang. Dan di saat itu, aku mengerti. Cinta kami bukanlah sesuatu yang baru. Itu adalah pengulangan, sebuah gema dari kehidupan yang tak pernah selesai, sebuah lingkaran tanpa akhir yang terukir dalam ruang dan waktu. Sinyal semakin melemah. Layar ponselku berkedip-kedip, menampilkan pesan terakhir dari Zhang Wei, yang terdistorsi oleh statis dan rasa sakit: "*Lin… jika kau mendengar ini… ingatlah bahwa cintaku… selalu dan selamanya… miliknya—*"
You Might Also Like: Kekurangan Pelembab Lokal Yang Bisa
Share on Facebook