Baiklah, ini dia kisah dracin dengan nuansa takdir berjudul 'Cinta yang Menolak Dilupakan': **Cinta yang Menolak Dilupakan** Angin musim semi berhembus lembut, menerbangkan kelopak bunga *plum* di taman Universitas Qing Hua. Di tengah keramaian mahasiswa, **Xiao Lan**, seorang mahasiswi sastra, tertegun. Matanya terpaku pada seorang pria yang berdiri di dekat air mancur. Pria itu, **Li Wei**, mahasiswa arsitektur, menatapnya dengan sorot mata yang membuatnya merasa familiar, *sangat* familiar, seolah mereka pernah bertemu… ratusan tahun lalu. Xiao Lan seringkali bermimpi aneh. Mimpi tentang taman luas dengan danau berkilauan, tentang gaun sutra berwarna *Giok* yang berayun lembut, dan tentang tatapan penuh cinta dari seorang pria yang memanggilnya "Lian Hua". Ia selalu terbangun dengan air mata, perasaan kehilangan yang teramat dalam, dan *suara lirih* memanggil namanya. Li Wei pun merasakan hal yang sama. Mimpi-mimpinya dipenuhi adegan peperangan, istana yang megah, dan wajah seorang wanita cantik yang selalu dilukisnya berulang kali di buku sketsanya. Wanita itu bernama Lian Hua, dan Li Wei merasa *terikat* padanya, seolah mereka memiliki janji yang belum terpenuhi. Pertemuan mereka di universitas bukanlah kebetulan. Setiap hari, mereka semakin dekat. Xiao Lan menemukan lukisan Lian Hua di buku sketsa Li Wei. Li Wei mendengar Xiao Lan tanpa sadar menyenandungkan lagu rakyat kuno yang hanya diketahui oleh kaum bangsawan di dinasti yang hilang. *Kepingan-kepingan masa lalu* mulai berjatuhan, membentuk mosaik kenangan yang mengerikan. Mereka adalah Lian Hua, putri mahkota yang dijodohkan dengan pangeran yang kejam, dan Wei Long, pengawal setia yang mencintainya dalam diam. Cinta mereka terlarang, *dikubur dalam-dalam* di balik tembok istana. Pangeran yang cemburu menjebak Wei Long dengan tuduhan palsu dan mengeksekusinya di depan mata Lian Hua. Lian Hua, yang tak sanggup menanggung derita, memilih mengakhiri hidupnya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia bersumpah: **"Aku… akan… kembali… dan… menuntut… keadilan!"** Namun, takdir punya rencana lain. Reinkarnasi membawa mereka kembali, bukan untuk membalas dendam dengan kemarahan, tetapi untuk *memutus rantai kebencian*. Xiao Lan, sebagai Lian Hua yang telah bereinkarnasi, menyadari bahwa balas dendam hanya akan memperpanjang siklus penderitaan. Ia memilih untuk *mengampuni*. Suatu malam, mereka berdiri di tepi danau di taman universitas. Xiao Lan menatap Li Wei, air mata mengalir di pipinya. "Dendam… tidak akan mengembalikan apapun, Wei Long. Kita… harus… melepaskan…" bisiknya. Li Wei menggenggam tangannya erat. Ia mengerti. Dendam hanya akan mengunci mereka dalam masa lalu yang kelam. Ia memandang Xiao Lan, bukan sebagai Lian Hua yang terluka, tetapi sebagai Xiao Lan yang *kuat* dan *bijaksana*. Mereka memilih untuk melupakan. Untuk memulai hidup baru, *tanpa beban* masa lalu. Namun, di dalam hati mereka, *sebuah janji masih terukir*. Janji tentang cinta abadi, janji untuk saling menemukan, *sekali lagi*. Mereka berpisah, tanpa sepatah kata pun. Xiao Lan melanjutkan studinya di Prancis, sementara Li Wei memilih bekerja di pedalaman. Namun, jauh di lubuk hati mereka, mereka tahu… pertemuan mereka bukanlah akhir. Di bawah *rembulan pucat*, bisikan dari kehidupan sebelumnya terdengar lirih: "*Sampai jumpa... di kehidupan selanjutnya...*"
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Fleksibel Kerja Dari
Share on Facebook