Judul: **Serpihan Hujan di Batu Giok** Hujan menggigil di atap Paviliun Anggrek, persis seperti malam itu. Malam ketika **DIA** menghancurkan segalanya. Lianhua menatap tetesan air yang jatuh satu per satu, memburamkan pemandangan taman yang dulunya tempat mereka tertawa. Udara dingin merayapi tulang, sama dinginnya dengan tatapan Qifeng saat terakhir kali mereka bertemu. Dulu, mereka adalah sepasang batu giok yang tak terpisahkan. Lianhua, putri seorang tabib kerajaan, dan Qifeng, pangeran mahkota yang pemberani. Cinta mereka mekar di bawah pohon plum yang selalu mekar di musim semi, seindah janji yang diukirkan di liontin batu giok yang mereka bagi dua. Janji *abadi*. Tapi dunia ini kejam. Fitnah, intrik istana, dan ambisi yang membutakan mata Qifeng. Lianhua ingat, bagaimana bibirnya bergetar saat ia mendengar Qifeng menikahi putri Jenderal Agung. Pengkhianatan itu menikam jantungnya, meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Bayangan pohon bambu menari-nari di dinding, patah dan terdistorsi. Seperti hatinya. Setiap hari yang berlalu adalah siksaan. Ia melihat Qifeng dari kejauhan, tatapannya kosong, senyumnya hampa. Lelaki yang dulu begitu dicintainya, kini seperti boneka tanpa jiwa. Lianhua menggenggam erat liontin batu giok miliknya. Dingin. Ia telah menyembunyikan identitasnya, mengubah namanya, dan berlatih ilmu bela diri dengan keras. Dendamnya membara, pelan namun pasti. Ia akan membuat Qifeng merasakan sakit yang sama, kehilangan yang sama. Perlahan-lahan, ia menenun jaring balas dendamnya, menggunakan kelemahan Qifeng sendiri sebagai senjatanya. Cahaya lentera di tangannya berkedip-kedip, nyaris padam. Sama seperti harapan yang pernah ia miliki. Namun di matanya, menyala api yang lebih kuat dari kobaran api terhebat sekalipun. Ia telah menyusup ke istana, menjadi penasihat terdekat Kaisar, dengan satu tujuan: menghancurkan Qifeng. Hari pembalasan semakin dekat. Lianhua tahu, Qifeng masih menyimpan liontin batu giok miliknya. Ia bisa melihatnya, tersembunyi di balik jubah kebesarannya. Sentuhan masa lalu yang tak bisa dilupakannya. Ia akan menggunakannya. Saat ia berdiri di samping Qifeng pada malam penobatan Kaisar yang baru, Lianhua berbisik pelan, "Tahukah kau, pangeran? Liontinmu itu… *diracuni*."
You Might Also Like: 185 Angel With Big Wings Flies Over
Share on Facebook