Baiklah, inilah kisah puitis bergaya dracin klasik yang kamu minta, dengan sentuhan bahasa yang indah dan metaforis: **Senandung Senyap di Lembah Kabut** Di lembah kabut abadi, tempat waktu menari dalam lingkaran yang **ABADI**, aku melihatmu. Bayanganmu tercetak di atas sutra pagi, setipis embun yang mengering saat matahari menyapa. Kau adalah *RENJANA*, mimpi yang terlupa, lukisan yang belum selesai. Mataku mengikuti jejak langkahmu di atas rumput yang basah, setiap tetes embun mencerminkan ribuan kata yang tak terucap. Bibirku membeku dalam senyum yang kelu, bisu menyaksikan keindahanmu yang *MENYAKITKAN*. Aku mencintaimu dalam kebisuan, sebuah simfoni sunyi yang bergemuruh dalam dadaku. Seperti sungai yang mengalir di bawah tanah, cinta ini merobek keheningan dengan gemuruh yang tak terdengar. Kebisuan ini menjerit, merobek setiap lembar hatiku, menyisakan bekas luka yang tak terhapuskan. Kau adalah melodi yang tak dapat kutulis, bintang yang tak dapat kuraih. Setiap kali kita berpapasan, waktu berhenti. Dunia menjadi sunyi. Hanya ada kita, dalam dimensi di mana kata-kata kehilangan maknanya. Aku membangun istana cinta di dalam *MIMPI*, menara-menara harapan dari pasir. Setiap malam, aku mengunjungi istana itu, menari bersamamu di bawah rembulan yang pucat. Namun, fajar selalu tiba, dan istana itu lenyap, meninggalkan aku dalam kehampaan yang dingin. Apakah kau nyata? Atau hanya pantulan dari rinduku yang *MENDALAM*? Aku tak tahu. Mungkin, kau adalah bayangan dari masa lalu, bisikan dari masa depan. Mungkin, kita pernah bertemu di kehidupan yang lain, di alam semesta yang berbeda. Suatu hari, aku menemukan sebuah lukisan di loteng tua. Di sana, terlukis wajah seorang wanita yang *SAMA* dengan dirimu. Di bawah lukisan itu, terukir sebuah nama: "Aisyah, kekasih yang hilang." Tiba-tiba, ingatan itu kembali. Ledakan cahaya di dalam kepalaku. Aku *INGAT*! Kita pernah bersama, di era yang terlupakan. Kita terpisah oleh perang, oleh takdir yang kejam. Aku adalah prajurit yang gugur di medan pertempuran, kau adalah wanita yang menungguku di rumah. Momen pengungkapan ini bagai pisau yang menghunus jantungku. Misteri itu terpecahkan, tapi keindahannya justru membuat luka makin dalam. Cinta yang tak nyata ini ternyata *PERNAH* nyata, namun kini hanya tersisa kenangan yang menyakitkan. Dan kini, aku menyadari bahwa aku mencintaimu dalam kebisuan, bukan karena aku tak berani berbicara, tapi karena kata-kata tak mampu menggambarkan *KEDALAMAN* cintaku. Mungkin... suatu hari... di kehidupan yang lain... kita akan bertemu lagi...
You Might Also Like: Unveiling Truth Colon Cancer Awareness
Share on Facebook