Kisah Seru: Tangisan Yang Mengguncang Takdir
Judul: Hujan di Lembah Pengkhianatan
Hujan menggigil membasahi lembah, serupa air mata yang tak pernah kering. Di gubuk reyot di tepi jurang, berdiri Lin Mei, wajahnya sepucat rembulan yang tertutup awan. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak malam itu. Malam ketika Yan Wei, cintanya, hidupnya, menghancurkan segalanya.
Dulu, lembah ini adalah surga. Di bawah cahaya lentera yang selalu mereka nyalakan bersama, mereka berjanji setia abadi. Yan Wei dengan senyumnya yang menawan, Lin Mei dengan hatinya yang polos. Kini, lentera itu nyaris padam, cahayanya hanya setitik kecil di tengah kegelapan yang menggerogoti.
"Lin Mei..." suara itu, serak dan berat, memecah kesunyian. Yan Wei, berdiri di ambang pintu, bayangannya patah diterpa angin malam. Wajahnya tak lagi menyimpan senyum yang dulu dicintai Lin Mei. Wajah itu kini dihiasi kerutan penyesalan dan beban yang tak terkatakan.
"Apa yang kau inginkan, Yan Wei?" tanya Lin Mei, suaranya sedingin es.
"Aku... aku hanya ingin meminta maaf. Atas segalanya."
Lin Mei tertawa hambar. "Maaf? Apa maafmu bisa mengembalikan kehormatan keluargaku? Apa maafmu bisa menghapus malam ketika kau menikahi wanita itu, anak dari jenderal yang berkuasa?"
Yan Wei terdiam. Hujan semakin deras, membasahi mereka berdua. Kenangan malam itu menghantamnya seperti gelombang pasang. Dia menikahi wanita itu untuk menyelamatkan klannya dari kehancuran. Sebuah pengorbanan yang, dia kira, akan dimengerti Lin Mei. Bodohnya dia.
"Aku tahu, Lin Mei. Aku tahu aku telah menyakitimu. Tapi percayalah, aku tidak pernah berhenti mencintaimu."
"Cinta? Jangan sebut kata itu!" bentak Lin Mei. Matanya berkilat marah, tangannya mengepal erat. "Kau telah mengkhianati cinta itu, Yan Wei. Kau telah membunuhnya!"
Perlahan, Lin Mei berbalik, menghadap jendela. Di kejauhan, terlihat istana yang megah, tempat Yan Wei tinggal bersama istrinya. Sebuah seringai tipis muncul di bibir Lin Mei.
"Selama sepuluh tahun ini, aku hidup untuk satu hal: Balas Dendam."
Yan Wei menatapnya, ketakutan mulai merayap di hatinya. Dia tahu, Lin Mei tidak pernah main-main dengan kata-katanya.
"Kau tidak tahu... apa yang telah kulakukan, Yan Wei. Semua yang terjadi, semua intrik, semua kematian... semua adalah rencanaku."
Lin Mei berbalik lagi, menatap Yan Wei dengan tatapan yang menusuk jiwa. Cahaya lentera yang redup menyoroti wajahnya, mengungkapkan sebuah kebenaran yang mengerikan.
"Istrimu... dia mengandung anakmu, kan?" tanya Lin Mei, suaranya berbisik, nyaris tak terdengar.
Yan Wei mengangguk, tanpa sadar.
Lin Mei tersenyum, senyum yang lebih dingin dari hujan di luar.
"Tahukah kau, Yan Wei... bahwa racun yang membunuh ayahnya, racun yang membuatnya tampak seolah meninggal karena penyakit jantung... berasal dari tanganku?"
Dan saat itulah, segalanya menjadi jelas. Selama ini, Lin Mei bukan hanya menderita. Dia merencanakan SEGALANYA.
Dan racun yang sama, yang telah merenggut nyawa ayah istri Yan Wei, kini mengalir dalam darah anaknya sendiri.
You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Kosmetik Bisnis