Kau Menciumku, Dan Aku Ingat Semua Kebohonganmu
Kau Menciumku, dan Aku Ingat Semua Kebohonganmu
Bulan, Sang Pemanggil Nama, menari di atas Danau Hening, memantulkan wajah pucatku. Di sekelilingku, lentera-lentera terapung menyala, setiap cahayanya seperti bisikan rahasia yang terperangkap di antara dunia manusia dan dunia roh. Aku, Lian, berdiri di ambang batas ini, jantungku berdebar seperti sayap burung yang terperangkap.
Semuanya dimulai dengan ciuman. Ciuman dari Wei, Pangeran Kegelapan yang berjanji akan melindungiku, namun matanya menyimpan kabut yang lebih tebal dari malam tergelap. Saat bibirnya menyentuh bibirku, ingatan itu menghantamku seperti gelombang pasang. Kematianku. Bukan kecelakaan seperti yang mereka katakan, tapi...pembunuhan. Dan dalangnya...
Dunia manusia yang dulu kukenal kini terasa seperti mimpi buruk yang asing. Di sana, aku adalah Lian, putri pedagang kaya yang meninggal secara tragis. Di dunia roh ini, aku adalah Lianhua, Bunga Teratai, reinkarnasi dari Dewi Bulan yang terlupakan.
Bayangan berbicara padaku di dunia roh. Mereka membisikkan kebenaran yang menyakitkan: Wei bukanlah pangeran yang baik. Dia adalah manipulator ulung, terobsesi untuk menguasai kekuatan Dewi Bulan yang mengalir dalam diriku. Ia menggunakan ciumannya untuk mengikatku, untuk memanipulasi takdirku, untuk mengubur ingatan yang bisa membongkar rencananya.
"Kebohongan itu indah, Lianhua. Ia lebih manis dari madu, lebih kuat dari baja," desis Wei suatu malam, tangannya mengelus pipiku dengan sentuhan yang terasa seperti es.
Aku harus melawan. Aku harus mengingat.
Setiap malam, aku menyelam lebih dalam ke dalam kenangan yang terlupakan. Aku melihat diriku yang dulu, Lian yang rapuh, diperdaya dan dibunuh. Aku melihat Wei, dengan senyum manis dan pisau tersembunyi di balik jubahnya.
Tapi, ada satu ingatan yang berbeda. Seorang pria dengan mata sehangat mentari pagi, yang selalu menolongku. Dia bernama Jun, seorang tabib yang misterius. Dulu, aku mengira dia hanya temanku, tapi sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. Di matanya, aku melihat cinta yang tulus, bukan obsesi dan kebohongan.
Pertempuran terakhir terjadi di Danau Hening. Wei, dengan amarah membara di matanya, mencoba menyerap seluruh kekuatanku.
"Kau akan menjadi mahkotaku, Lianhua! Kekuatanmu akan memberiku kekuasaan tak terbatas!" teriaknya, suaranya memecah kesunyian malam.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak, Wei. Aku mengingat semuanya. Kau membunuhku!"
Jun tiba, pedangnya bersinar di bawah cahaya bulan. Pertarungan sengit terjadi. Wei kuat, tapi cinta Jun lebih kuat.
Akhirnya, Wei kalah. Ia terhuyung mundur, menatapku dengan tatapan kosong.
"Aku...mencintaimu..." bisiknya sebelum dia menghilang menjadi debu.
Apakah itu kebenaran? Atau hanya kebohongan lain? Aku tidak tahu.
Di dunia ini, aku adalah Lianhua. Di dunia lain, aku adalah Lian. Namun, yang terpenting, aku adalah diriku sendiri. Aku memilih takdirku sendiri.
Jun mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran. "Kau baik-baik saja, Lianhua?"
Aku tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa kepura-puraan. "Ya, Jun. Aku baik-baik saja."
Malam itu, aku mengerti siapa yang benar-benar mencintaiku dan siapa yang memanipulasi takdirku. Aku melihat kebenaran dalam mata Jun, kehangatan yang tulus yang tidak pernah kurasakan dari Wei.
Namun, misteri terbesar masih belum terpecahkan. Kenapa aku terpilih? Kenapa aku, seorang gadis biasa, bisa menjadi reinkarnasi Dewi Bulan? Apa peran sesungguhnya Jun dalam semua ini?
Dan saat bulan purnama bersinar terang, aku mendengar bisikan di dalam hatiku, mantra yang menakutkan dan menjanjikan: "Takdir akan ditulis ulang, ketika air mata bulan membasahi tanah yang terlupakan..."
You Might Also Like: Drama Populer Air Mata Di Ujung Pedang