FULL DRAMA! Aku Menulis Cerita Kita Di Tempat Yang Tak Bisa Ditemukan Sejarah
Langit senja di puncak Bukit Bintang itu merah membara, seolah memuntahkan sisa amarahnya hari ini. Di sinilah, di tempat yang konon katanya tersembunyi dari catatan sejarah, aku menulis cerita kita. Bukan dengan tinta dan perkamen, melainkan dengan air mata dan pecahan harapan yang berceceran di hatiku.
Dulu, kita berjanji di bawah langit yang sama, Li Wei. Janji yang kau ukir dengan senyuman semanis madu dan tatapan sehangat mentari pagi. Kau berjanji akan selalu melindungiku, akan membawaku terbang melewati badai, akan menjadi matahariku di tengah kegelapan. Kau bahkan berbisik, "Yue'er, cintaku padamu takkan pernah pudar, bahkan hingga bintang-bintang jatuh dari langit."
Senyuman itu… bisikan itu… kini terasa seperti duri yang menusuk ulu hatiku.
Kau ingat malam badai topan menerjang desa kita, Li Wei? Malam ketika sungai meluap dan menelan rumah-rumah seperti monster lapar? Aku mencarimu. Aku berteriak memanggil namamu di tengah raungan angin dan gemuruh air. Tapi kau tidak ada.
Kau justru ditemukan esok harinya, di sisi lain bukit, menggenggam erat tangan Nyonya Zhang. Ia adalah putri pedagang kaya yang datang dari kota, wanita yang jelas-jelas bukan aku.
Aku tidak menyalahkan takdir. Aku tidak menyalahkan topan. Aku menyalahkanmu. Kau memilih Kekayaan daripada cinta. Kau memilih Keselamatan daripada janji. Kau memilih Kehidupan yang nyaman daripada aku.
Bertahun-tahun berlalu. Kau hidup makmur, menjadi orang penting di kota. Aku mendengar tentang kesuksesanmu, tentang anak-anakmu, tentang kebahagiaanmu. Aku hanya tersenyum pahit. Kebahagiaanmu dibangun di atas puing-puing hatiku.
Kini, kau berdiri di hadapanku, di tempat yang tak bisa ditemukan sejarah ini. Mata tuamu memancarkan penyesalan yang terlambat. Kau memohon maaf, meratap tentang kesalahan masa lalu, tentang cinta yang kau sia-siakan.
"Yue'er… maafkan aku. Aku tahu aku telah menghancurkanmu. Aku tahu aku tak pantas dimaafkan…"
Air mata mengalir di pipimu, Li Wei. Air mata yang tak akan bisa membasuh dosamu.
Aku tidak membalas kata-katamu. Aku hanya menyerahkan sebuah gulungan kertas. Itu adalah akta pengalihan hak atas seluruh lahan pertanianmu, termasuk tanah yang kau peroleh dari Nyonya Zhang, untuk pembangunan panti asuhan bagi anak-anak yatim piatu yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam. Semua yang kau miliki, Li Wei, sekarang menjadi milik mereka. TAKDIR memang kejam, bukan? Bukankah ironis, orang yang dulu kau tinggalkan demi harta, kini menjadi penyebab kehancuran hartamu?
Kulihat matamu membulat penuh KEGAGALAN. Aku mengerti, inilah keadilan yang tersembunyi. Balas dendam yang tak berdarah.
Aku berbalik, meninggalkanmu sendirian di puncak bukit, di antara senja yang membara dan angin yang berbisik.
Apakah ini akhir dari kisah cinta kita? Atau awal dari dendam yang abadi?
You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Menemukan