Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin dengan sentuhan yang Anda inginkan: **Ia Menyebutku Dalam Podcast, Tapi Tak Menyebut Namaku** Cahaya senja menari di dinding apartemenku, menciptakan lukisan abstrak berwarna jingga dan ungu. Aku menyesap teh chrysanthemum, aromanya menenangkan, *seperti dulu*, ketika ia masih di sini. Dulu, senja ini selalu ia sambut dengan gitar dan senyumnya yang, astaga, betapa menipu senyum itu. Minggu ini, podcast terbarunya *trending* di seluruh jagat maya. Judulnya bombastis: "Rahasia di Balik Kesuksesanku". Aku tahu, jauh di lubuk hatiku, bahwa aku akan muncul di sana, dalam bentuk apapun. Ia selalu menjadikan kisah cintaku dengannya sebagai inspirasi. Dan aku selalu membiarkannya. Bodohnya aku. Nada piano mengalun dari *speaker*. Suaranya, selembut sutra, mulai bercerita tentang seorang wanita yang "mendukungnya tanpa syarat", seorang wanita yang "memberinya inspirasi tanpa henti", seorang wanita yang "mengorbankan mimpinya demi mimpinya". Tapi ia tak menyebut namaku. Setiap kata yang terucap, setiap pujian yang dilantunkan, terasa seperti belati yang menusuk perlahan. Dulu, pelukannya terasa hangat, sekarang aku tahu itu adalah pelukan beracun. Dulu, janjinya terasa sakral, sekarang hanya serpihan kaca yang tajam. *Ia mencuri kisahku, lalu membuang aku seperti sampah.* Aku menutup mata. Air mata enggan tumpah. Aku terlalu lelah untuk menangis. Sudah terlalu lama aku menangis. Aku belajar untuk menyembunyikan luka ini di balik senyum elegan, di balik gaun sutra mahal, di balik karier yang gemilang. Aku belajar untuk menjadi *kuat*. Podcast itu terus berlanjut. Ia menceritakan akhir kisah cinta mereka dengan dramatis, menyalahkan "perbedaan visi" dan "ketidakmampuan untuk berkompromi". Kebohongan. Aku tahu ia berbohong. Dunia tahu ia berbohong. Tapi siapa yang peduli? Ia sudah menjadi bintang. Dan aku? Aku hanya bayangan di belakangnya. Tangan kananku meraih ponsel. Sebuah pesan singkat terkirim. Kepada seseorang. Seseorang yang sangat berpengaruh. Seseorang yang bisa membuat kariernya hancur dalam semalam. Bukan dengan darah, bukan dengan cacian, tapi dengan kebenaran. Dengan fakta. Dengan bukti. Balas dendamku bukan tentang menghancurkannya. Balas dendamku adalah tentang *mengambil kembali* apa yang menjadi milikku. Karyaku. Kisahku. Kehormatanku. Dan melihatnya menyesal. Menyesal karena telah meremehkanku. Menyesal karena telah menghancurkanku. Beberapa hari kemudian, aku membaca berita utama. "Artis Musik Terkenal Diduga Melakukan Plagiarisme dan Manipulasi Emosional". Foto dirinya terpampang di mana-mana, tatapannya kosong dan putus asa. Aku tersenyum tipis. Senyum yang *terasa manis dan pahit* sekaligus. Teh chrysanthemum-ku sudah dingin. Aku membuangnya ke wastafel. Cinta dan dendam, sungguh ironis, lahir dari tempat yang… **SAMA!**
You Might Also Like: Kisah Populer Bayangan Yang Menyeret

Share on Facebook