**Janji yang Menguap Dalam Api Penyesalan** Hujan turun di atas makam. Bukan hujan badai yang mengamuk, tapi gerimis lembut, *menyayat hati*. Setiap tetes seolah meneteskan air mata duka yang tak pernah usai. Di tengah keheningan makam, berdirilah Lin Mei. Bukan Lin Mei yang dulu, dengan senyum merekah dan mata berbinar, melainkan arwah gentayangan, terikat pada dunia yang seharusnya sudah ia tinggalkan. Dulu, ia adalah kekasih Zhang Wei. Dulu, mereka berjanji akan menghabiskan sisa hidup bersama. Dulu, sebelum api melalap segalanya. Kebakaran itu, sebuah tragedi yang merenggut nyawanya dan menyisakan Zhang Wei dengan trauma mendalam dan *RASA BERSALAH yang abadi*. Kini, Lin Mei kembali. Bayangannya menari di antara batu nisan, mengikuti Zhang Wei kemanapun ia pergi. Bukan untuk menuntut balas dendam atas kematiannya, bukan pula untuk menuduh Zhang Wei sebagai penyebab kebakaran. Tidak, Lin Mei datang untuk tujuan yang jauh lebih dalam, yang jauh lebih pedih. Setiap malam, ia hadir dalam mimpi Zhang Wei. Mimpi yang dipenuhi kobaran api, jeritan, dan bayangan wajah yang memudar. Zhang Wei selalu terbangun dengan keringat dingin, hatinya *dicengkeram ketakutan yang tak terucapkan*. Ia merasa dihantui, merasa bersalah, merasa… pantas mendapatkan semua itu. Lin Mei mencoba berkomunikasi, menyentuh tangannya, membisikkan kata-kata penenang, tapi percuma. Ia hanyalah arwah, terperangkap di antara dunia hidup dan dunia arwah. Ia ingin Zhang Wei tahu kebenaran, kebenaran yang terkubur dalam abu dan penyesalan. Kebenaran bahwa kebakaran itu bukanlah kecelakaan, bukan pula perbuatan Zhang Wei. Lin Mei mengumpulkan energi spiritualnya, berjuang untuk menampakkan diri. Ia ingin Zhang Wei melihatnya, bukan sebagai hantu yang menakutkan, tapi sebagai Lin Mei yang dulu, kekasihnya yang selalu mencintainya. *PERLAHAN*, ia berhasil. Di suatu senja yang kelabu, Zhang Wei berdiri di depan makam Lin Mei. Matanya merah, pipinya basah. Ia berlutut, memohon ampun. "Lin Mei, aku tahu aku bersalah. Aku tidak bisa menyelamatkanmu. Ampuni aku…" Lin Mei, dalam wujudnya yang samar, menyentuh pipi Zhang Wei. Ia tidak bisa berbicara, tapi ia bisa menunjukkan. Melalui sentuhan itu, ia memori mengalir. Zhang Wei melihat kembali malam kebakaran itu, tapi kali ini dengan sudut pandang yang berbeda. Ia melihat sosok lain, seorang pria dengan dendam membara, menyulut api. Ia melihat Lin Mei berusaha melindunginya, *mengorbankan dirinya sendiri*. Zhang Wei terkejut. Kebenaran itu menghantamnya seperti gelombang tsunami. Ia tidak bersalah. Lin Mei tidak menyalahkannya. Kebakaran itu adalah rencana seseorang untuk mencelakai Zhang Wei, dan Lin Mei melindunginya dengan nyawanya sendiri. Air mata Zhang Wei mengalir semakin deras. Rasa bersalahnya menguap, digantikan oleh kesedihan yang mendalam, rasa kehilangan yang tak tertahankan. Ia mengerti sekarang, mengapa Lin Mei kembali. Bukan untuk membalas dendam, tapi untuk membebaskan Zhang Wei dari belenggu penyesalan. Dengan terungkapnya kebenaran, beban di pundak Lin Mei terasa ringan. Ia perlahan menghilang, cahaya lembut mengelilinginya. Misinya selesai. Ia telah memberikan kedamaian pada Zhang Wei, dan pada dirinya sendiri. Di depan makam, Zhang Wei berdiri tegak. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini bukan air mata penyesalan, melainkan air mata kelegaan, air mata cinta. Ia menatap langit kelabu, seolah melihat Lin Mei tersenyum padanya. Akhirnya, dia tahu bahwa cintanya tak pernah mati, hanya bertransformasi menjadi *kenangan abadi*. Kemudian, arwah itu tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum menghilang, meninggalkan sebuah pertanyaan: apakah kedamaian sejati itu selamanya?
You Might Also Like: Sagittarius Unveil Zodiacs Archers

Share on Facebook