**Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas dari Bayanganku** Di taman *lupin* yang bermekaran di bawah rembulan pucat, ia berdiri, siluet rapuh melawan kabut sutra yang melingkari pergelangan kakiku. "Kau…," bisiknya, suaranya serapuh *pecahan kristal*, "…adalah masa laluku yang terlupakan." Kata-kata itu bagai benang sutra yang ditarik paksa dari jantungku, meninggalkan ngilu *sunyi*. Aku menatap matanya, danau berkabut yang menyimpan rahasia purba. Di sana, aku melihat bayanganku sendiri – bukan bayangan yang kukenal, melainkan fragmen mimpi, lukisan pudar dari seorang wanita yang mengenakan gaun *anggrek* yang kukira tidak pernah kupunya. Setiap kali ia mendekat, waktu seolah membeku. Aroma *bunga persik* dan kenangan yang bukan milikku menyeruak, membanjiri pikiranku dengan adegan-adegan yang terasa begitu nyata, namun asing. Pertemuan di bawah pohon *sakura* yang berguguran, janji yang diucapkan di tepi danau yang berkilauan, sentuhan tangannya yang selembut *sayap kupu-kupu*. Semuanya… terlalu *intim* untuk menjadi kebohongan, terlalu *kabur* untuk menjadi kenyataan. Ia mengatakan, aku pernah menjadi *malaikat* penjaganya, cahaya di tengah kegelapannya. Ia mengatakan, aku meninggalkannya, menghilang bagai *embun* di pagi hari. Namun, setiap kali ia mencoba meraihku, *bayangannya* sendirilah yang ia peluk erat. Ia menggenggam ilusi tentangku, seorang wanita yang hidup dalam *memori* yang ia ciptakan sendiri. Apakah aku benar-benar masa lalunya? Atau hanya proyeksi *kerinduan* yang terpatri dalam hatinya yang terluka? Setiap malam, aku terjaga, dihantui oleh mimpi-mimpi yang saling bertentangan. Aku adalah dirinya di masa lalu, aku adalah dirinya di masa depan, aku adalah dirinya yang tidak pernah ada. *Dan kemudian, malam itu tiba.* Di bawah *cahaya bulan purnama*, ia membuka sebuah kotak musik. Melodi sendu mengalun, membangkitkan kenangan yang selama ini terpendam. Kotak itu berisi foto-foto seorang wanita. Wanita itu… *ibunya*. "Kau… kau sangat mirip dengannya," ucapnya terbata-bata. "Setiap kali aku melihatmu, aku melihat *dirinya* yang tak pernah bisa kumiliki lagi." *KEBENARAN* itu menghantamku bagai ombak besar. Aku bukanlah masa lalunya, aku adalah *bayangan* dari masa lalunya. Aku adalah pengganti, pelarian, *ilusi* yang ia ciptakan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya. Misteri terpecahkan. Luka *menganga*. "Dulu… aku memanggilmu *Ibuku*."
You Might Also Like: Alasan Skincare Lokal Aman Untuk Ibu

Share on Facebook