**Asap dan Bayangan Dendam** Hujan menggigil Kota Tua. Di balik tirai air yang tak henti-hentinya, Lentera Merah nyaris padam. Cahayanya yang kekuningan menimpa wajah Li Wei, menampakkan garis-garis halus yang mengukir cerita pahit di sekeliling matanya. Dulu, mata itu bersinar karena cinta untuk Mei Lan. Sekarang, hanya ada dingin dan perhitungan. Lima belas tahun berlalu sejak Mei Lan menikahi pria lain. Pria kaya raya yang bisa memberinya kemewahan, sesuatu yang tak bisa diberikan Li Wei, si pelukis jalanan yang miskin. Pengkhianatan itu bagai belati yang ditancapkan tepat di jantungnya. Bayangan masa lalu selalu menghantuinya, memburamkan harapan, membuatnya terjebak dalam pusaran amarah yang tak berujung. “Kau datang,” gumam Li Wei, tanpa menoleh. Mei Lan mendekat, payung merahnya melindungi dari hujan yang semakin deras. “Aku selalu datang, Li Wei. Meskipun kau tak pernah menginginkanku.” Suaranya bergetar, menyimpan beban yang sama beratnya dengan hujan di luar. Li Wei berbalik. Mata mereka bertemu, dua dunia yang dulu menyatu kini dipisahkan jurang yang dalam. “Dulu. Dulu kita saling mencintai. Dulu kau berjanji.” Nada bicaranya datar, seperti suara angin yang berdesir di antara reruntuhan. “Aku… aku terpaksa. Kau tahu itu.” Tawa hambar keluar dari bibir Li Wei. “Terpaksa? Kau lebih memilih perhiasan dan sutra daripada cintaku? Kau mengkhianati mimpi kita, Mei Lan!” Hujan semakin menjadi-jadi. Bayangan mereka berdansa di dinding, patah dan terdistorsi oleh cahaya lentera yang berkedip. Mei Lan menunduk, air mata bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. “Kau pikir aku bahagia? Kau pikir aku tak menyesal? Aku terperangkap dalam sangkar emas, Li Wei. Aku merindukanmu, merindukan kebebasan yang kita impikan dulu.” Li Wei terdiam. Rasa sakit dan amarah yang selama ini membara di dadanya perlahan mereda, digantikan oleh sesuatu yang lebih dingin, lebih kejam. Selama bertahun-tahun, dia telah menyusun rencana. Rencana yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan *korban*. “Aku mengerti, Mei Lan. Aku mengerti semuanya.” Li Wei meraih tangannya, jemarinya dingin dan kaku. “Kau akan bebas. Aku akan membebaskanmu.” Mei Lan menatapnya, setitik harapan menyala di matanya yang basah. “Bagaimana caranya?” Li Wei tersenyum. Senyum yang tak menyentuh matanya. Senyum yang membekukan darah. “Dengan cara yang sama kau membebaskan dirimu dariku dulu.” Asap dupa dari wajan kecil di sudut ruangan mengepul, memenuhi udara dengan aroma yang memabukkan. Aroma yang menenangkan, aroma yang *mematikan*. “Kau… apa yang kau lakukan?” Mei Lan terbatuk, dadanya terasa sesak. Li Wei melepaskan tangannya. “Lima belas tahun, Mei Lan. Lima belas tahun aku menunggumu. Aku belajar bersabar, aku belajar menyembunyikan dendamku. Dan sekarang, saatnya menuai hasilnya.” Mei Lan mencoba melarikan diri, namun kakinya terasa berat, tubuhnya lemas tak berdaya. Li Wei mendekat, matanya berkilat-kilat. “Selamat tinggal, Mei Lan. Selamat tinggal pada kehidupan yang kau pilih. Dan selamat datang… pada *balas dendamku*.” Mei Lan terjatuh, napasnya tersengal-sengal. Di matanya, terlihat ketakutan dan penyesalan yang mendalam. Lalu, semuanya menjadi gelap. Li Wei berdiri di atas mayat Mei Lan, hujan mengguyur tubuhnya yang menggigil. Bayangan Lentera Merah menari-nari di sekelilingnya, membentuk siluet seorang pria yang telah kehilangan segalanya, dan merebut kembali apa yang menurutnya *miliknya*. *Namun, di balik semua ini, tersembunyi sebuah rahasia yang jauh lebih gelap, sebuah perjanjian yang dibuat bertahun-tahun lalu, yang melibatkan lebih dari sekadar dua hati yang terluka – Sebuah Perjanjian Darah yang menuntut lebih dari sekadar nyawa Mei Lan.*
You Might Also Like: Uncover Link Ashwagandha And Heart

Share on Facebook