Baiklah, ini dia kisah puitis bergaya Dracin klasik yang kamu minta: **Jejak Terkhianati di Jalan Ilusi** Kabut *indigo* merayapi tepian Danau Bulan Sabit, menyelimuti Pagoda Giok dalam kerudung mimpi. Aku berjalan menjauh, punggungku menghadapmu, namun setiap langkah terasa seperti pengkhianatan baru. Seolah-olah kakiku menginjak serpihan-serpihan hatimu yang hancur, yang bahkan aku tak yakin pernah kumiliki. Gaunku, sutra **warna anggrek**, berayun lirih di belakangku, seperti bisikan penyesalan yang tak terucap. Di telingaku terngiang melodi seruling bambu yang kita dengar di bawah pohon *sakura* yang tak pernah mekar di dunia nyata. Apakah itu hanya ilusi, sebuah simfoni yang diciptakan kerinduan? Di kejauhan, siluetmu berdiri, terpahat dalam cahaya rembulan. Kau adalah dewa yang terlupakan, seorang pangeran dari negeri yang hanya ada dalam lukisan kuno. Tatapanmu, sehangat ***amber*** dan sedalam samudra, membakar punggungku, meski jarak memisahkan kita bak jurang tanpa dasar. Kita bertemu di persimpangan waktu, di lorong-lorong mimpi yang berliku. Kau adalah kilatan *kembang api* di langit malam yang sunyi, janji keabadian yang tak mungkin ditepati. Sentuhanmu, selembut kelopak bunga *teratai*, menghantui setiap pori-pori kulitku. Namun, semua itu... apakah itu benar terjadi? Atau hanya rekaan hatiku yang hampa? Setiap mentari terbit adalah pengkhianatan baru. Setiap embun pagi adalah air mata yang tak tertahankan. Aku berjalan menjauh, membawa serta aroma *cendana* dan bayanganmu yang tak terhapuskan. *** Kemudian, di tengah jalan setapak yang berliku, aku menemukan sebuah kotak musik. Terbuat dari kayu eboni, diukir dengan naga dan phoenix yang saling berkejaran. Saat kubuka, melodi seruling bambu yang sama mengalun, membawa serta secarik kertas *usang*. Tertulis dengan tinta emas, kalimat yang menghancurkan ilusi: *“Untukmu, yang tak pernah benar-benar ada, namun selalu kurindukan. Aku menciptakanmu dalam mimpiku, agar aku tak merasa terlalu sepi di kerajaan yang sunyi ini.”* *Kau* adalah raja itu. Aku adalah ciptaanmu. Sebuah ilusi yang begitu indah, begitu nyata, hingga pengkhianatan ini... terasa **LEBIH NYATA** dari apa pun. Langkahku terhenti. Aku menoleh ke belakang. Kabut indigo menelanku utuh. *Apakah kau masih mendengarku, di suatu tempat di antara mimpi dan kenyataan?*
You Might Also Like: 8 Manfaat Pelembab Lokal Dengan Sodium

Share on Facebook