**Aku Menatapmu di Bawah Cahaya Sore, dan Tahu Dunia Tak Berpihak Pada Kita** Cahaya senja melukis langit Kota Terlarang dengan warna *emas* dan *ungu*, persis seperti lukisan yang dulu kutemukan di loteng berdebu rumah kakek buyutku. Aroma bunga *osmanthus* menyelimuti udara, mengingatkanku pada melodi yang sayup-sayup kudengar dalam mimpi-mimpiku. Aku, Lin Yue, berdiri di sana, terpaku. Di kejauhan, berdiri seorang pria. Tinggi, tegap, dengan mata setajam *elang*. Dia menatapku, dan seolah waktu berhenti berputar. Aku mengenalnya. Bukan, aku *merasa* mengenalnya. Seperti resonansi jiwa yang sudah lama terpendam. Dia adalah Zhao Feng, CEO muda dan dingin yang menjadi buah bibir seluruh negeri. Tapi, bagiku, dia bukan sekadar seorang pengusaha sukses. Ada _sesuatu_ yang lebih dalam, lebih *menyakitkan* dalam tatapannya. *** Mimpi-mimpiku semakin intens. Fragmen kehidupan di masa lalu menghantuiku. Istana megah, intrik, pengkhianatan, dan cinta yang terlarang. Aku, putri mahkota yang berani, dan dia, seorang jenderal pemberani yang dituduh berkhianat. Tuduhan palsu yang merenggut nyawanya, dan aku, yang tak berdaya menyelamatkannya. Seratus tahun lalu, di bawah *cahaya bulan* yang sama, kami bersumpah akan bertemu kembali. Janji yang terpatri dalam jiwa, diwarnai dosa dan air mata. Dosa karena aku tak mampu melindunginya, dan dosa karena kami saling mencintai di tengah badai politik. "Putri..." bisik seorang pelayan suatu sore. Suaranya serak, namun terdengar *familiar*. Dia adalah Nyonya Li, pelayan Zhao Feng. Aku tahu, dia juga bagian dari masa lalu kami. "Nyonya Li, ceritakan padaku... apa yang terjadi *sebenarnya* seratus tahun lalu?" *** Kebenaran terkuak perlahan, bagaikan kelopak bunga *teratai* yang mekar satu per satu. Pengkhianatan bukan hanya datang dari musuh politik, tapi dari orang terdekatku, *adik kandungku sendiri*. Dia menginginkan takhta, dan Zhao Feng menjadi batu sandungan. Zhao Feng difitnah, dipenjara, dan dieksekusi. Aku, yang berusaha membuktikan ketidakbersalahannya, malah dijebak dan dikurung. Hancur, aku hanya bisa menyaksikan kematiannya dari balik jeruji besi. Rasa sakit itu... *abadi*. Zhao Feng, atau sekarang Zhao Feng, ternyata juga mengingat semuanya. Tapi, ada yang berbeda dengannya. Dia tidak marah, tidak dendam. Yang kurasakan darinya hanyalah *kesedihan* yang mendalam. "Lin Yue," bisiknya suatu malam di bawah *cahaya bintang*. Suaranya bergetar. "Aku tidak akan membalas dendam. Itu tidak akan membawa kita kembali padamu." *** Dia membalas dendam bukan dengan kekerasan, tapi dengan *keheningan* dan *pengampunan*. Dia memaafkan adikku, yang kini menjelma menjadi seorang politisi korup. Dia membongkar kebusukannya tanpa mencela, tanpa amarah. Hanya dengan *fakta* dan *kebenaran*. Pengampunan itu lebih menyakitkan daripada *pedang* manapun. Adikku hancur. Bukan karena kehilangan kekuasaan, tapi karena *kebaikannya*. Dia tidak bisa memahami bagaimana seseorang bisa memaafkan pengkhianatan sekeji itu. Aku tahu, Zhao Feng melakukan ini bukan untuknya, tapi untukku. Untuk membebaskan jiwa kami dari belenggu masa lalu. *** Cahaya sore kembali menyelimuti kami. Aku dan Zhao Feng berdiri berdampingan, menatap Kota Terlarang yang kini sunyi. Semua sudah berakhir. Dendam sudah terbalas. Kebenaran sudah terungkap. Tapi, *ada yang hilang*. Dia menatapku, matanya berkaca-kaca. "Aku mencintaimu, Lin Yue. Selamanya." Aku membalas tatapannya. "Aku juga, Zhao Feng. Selamanya." Tapi, dalam hatiku, aku tahu ada _harga_ yang harus dibayar. Aku berbalik, dan berjalan menjauh. Meninggalkannya di bawah cahaya senja. Meninggalkan _segalanya_. "Jangan lupakan aku, *Yue'er*..." bisik angin, seperti suara dari kehidupan sebelumnya.
You Might Also Like: Remembering David Tupper Life

Share on Facebook