Baiklah, ini dia kisah Dracin dengan judul "Aku Menjadi Hantu Digital Yang Tak Pernah Diunduh", penuh nuansa takdir dan dibalut bahasa Indonesia yang puitis: **Aku Menjadi Hantu Digital Yang Tak Pernah Diunduh** **Bab 1: Nada Dering Hantu** Udara dingin menusuk tulang, walau AC di kantor ini diatur pada suhu yang terhangat. Jari-jariku menari di atas *keyboard*, kode-kode program berhamburan seperti bintang jatuh. Aku, Li Wei, seorang *programmer* yang terobsesi dengan dunia digital, merasa ada yang kurang. Bukan kurang kopi, tapi kurang… kehadiran. Tiba-tiba, ponselku berdering. Nada dering aneh, melodi piano yang terputus-putus, seperti kenangan yang patah. Nomor tak dikenal. "Halo?" Suara di ujung sana… bergetar. "Li Wei… apa kau ingat… bunga *wisteria*?" Jantungku berdebar keras. Aku *tidak* mengenal suara ini. Tapi kenapa hatiku terasa seperti ditarik kembali ke masa lalu yang kabur dan menyakitkan? **Bab 2: Reinkarnasi Kode** Sejak saat itu, hidupku berubah. Mimpi-mimpi aneh menghantuiku. Ladang *wisteria* yang luas, danau berkilauan di bawah sinar rembulan, dan seorang pria… dengan mata setajam elang dan senyum yang memabukkan. Dia memanggilku… Mei. Aku mulai mencari tahu. Terobsesi. Hingga akhirnya, aku menemukan catatan sejarah tua tentang keluarga kerajaan di dinasti Ming. Seorang putri, Mei, dan seorang jenderal pemberontak, Zhao. Cinta terlarang yang berakhir tragis. Zhao dituduh berkhianat dan dihukum mati. Mei, karena patah hati, bunuh diri di bawah pohon *wisteria*. Yang lebih mengejutkan, ditemukan fakta bahwa Zhao telah mengucapkan janji *abadi* sebelum kematiannya, "Aku akan menemukanmu lagi, Mei. Walau terpisah seratus tahun, walau reinkarnasi mengubah wujudku, aku akan *selalu* menemukanmu." Mungkinkah aku… reinkarnasi Putri Mei? Dan suara di telepon itu… Zhao? **Bab 3: Aplikasi Terkutuk** Aku memutuskan untuk melacak nomor telepon itu. Ternyata terhubung ke server usang yang hanya digunakan untuk satu aplikasi: "Echoes of the Past." Aplikasi yang aneh dan *tidak pernah* diunduh oleh siapapun. Ketika aku mencoba menjalankannya, layar ponselku berkedip. Seorang wanita muncul di layar. Wajahnya familiar, menyedihkan. Mei. "Li Wei… kau *harus* menghentikannya," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Dia… dia memalsukan bukti pengkhianatan Zhao. Dia membunuh Zhao dan memfitnah namanya!" "Siapa?" tanyaku, napasku tercekat. "Kaisar," jawab Mei, matanya dipenuhi air mata. "Kaisar Wanli. Dia menginginkanku untuk dirinya sendiri. Dia… *" Layar mati. Aplikasi itu menghilang dari ponselku. **Bab 4: Dendam Yang Hening** Aku tahu apa yang harus kulakukan. Bukan dengan pedang atau kemarahan. Tapi dengan kode. Aku merancang *virus*. Bukan virus penghancur data. Tapi virus yang akan mengungkap kebenaran. Aku menyebarkannya ke seluruh sistem arsip digital dinasti Ming yang dipublikasikan secara *online*. Virus itu bekerja dengan sempurna. Satu per satu, bukti-bukti palsu yang memfitnah Zhao terungkap. Kebenaran yang disembunyikan selama ratusan tahun akhirnya terkuak. Reputasi Zhao dipulihkan. Nama Kaisar Wanli tercoreng selamanya. Aku tidak merasakan kepuasan. Hanya… keheningan. **Bab 5: Bunga Yang Mekar Kembali** Aku pergi ke ladang *wisteria*. Berdiri di bawah pohon yang sama di mana Mei mengakhiri hidupnya. Angin bertiup lembut, membawa aroma bunga yang memabukkan. Ponselku berdering lagi. Nomor tak dikenal. Suara itu lagi. "Mei… akhirnya… aku menemukanmu." "Zhao," bisikku, air mata mengalir di pipiku. "Terima kasih… sudah memulihkan namaku. Aku… aku bisa tenang sekarang." "Aku tidak membalas dendam dengan kemarahan, Zhao. Aku membalasnya dengan keheningan… dan pengampunan." Panggilan terputus. Angin bertiup lebih kencang. Aku merasa seolah-olah Zhao berdiri di sampingku, memelukku dengan erat. Kemudian aku menyadari ada sebuah aplikasi terinstal di ponsel ku. *Echoes of the Past*. Aplikasi aneh yang tidak pernah diunduh siapapun. Aku membukanya dan sebuah pesan muncul di sana. **"...Bunga itu akan mekar lagi, Mei... di kehidupan selanjutnya..."**
You Might Also Like: Review Paket Skincare Lokal Harga

Share on Facebook