Oke, ini dia kisah Dracin intens yang kamu minta, dengan elemen-elemen yang sudah kamu sebutkan: **Ciuman yang Menghapus Nama Keluarga** Malam itu, Desa Gunung Salju membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Angin melolong bagai ratapan arwah gentayangan, menyapu salju yang ternoda merah. Di tengah hamparan putih yang berlumuran itu, berdiri Li Wei, siluetnya tajam melawan rembulan pucat. Gaun sutranya yang dulu berwarna merah membara kini kotor dan compang-camping, senada dengan hatinya yang remuk redam. Di hadapannya, berlutut Zhao Ming, lelaki yang dicintainya sekaligus dibencinya. Wajahnya yang tampan, yang dulu mampu meluluhkan hatinya hanya dengan senyuman, kini lebam dan berdarah. Di bibirnya, masih terasa jejak ciuman terakhir mereka – ciuman pahit yang mengakhiri segalanya. "Wei…" bisiknya, suaranya serak dan bergetar. "Maafkan aku…" Wei mendongak, matanya berkilat seperti pecahan es. Di balik tatapan dingin itu, tersimpan lautan luka dan pengkhianatan. "Maaf katamu? Setelah semua ini?" Udara dipenuhi aroma dupa terbakar, memenuhi altar keluarga Zhao yang berlumuran darah. Malam ini, rahasia kelam keluarga mereka akhirnya terkuak – rahasia yang mengikat Wei dan Ming dalam jalinan cinta dan kebencian yang tak terpisahkan. Keluarga Zhao, ternyata, bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarga Li, peristiwa tragis yang Wei saksikan saat masih kanak-kanak. "Kau… KAU MEMBUNUH KELUARGAKU!" Wei berteriak, suaranya memecah keheningan malam. Air mata membeku di pipinya, menyatu dengan salju yang menempel di rambutnya. Ming hanya menunduk, tak berani menatap mata Wei. Ia tahu, ia pantas mendapatkan amarahnya. Ia tahu, ia pantas mati. Tapi, ia tak ingin mati sebelum Wei tahu kebenaran yang sebenarnya – bahwa ia, Ming, tak tahu menahu soal kejahatan keluarganya. Bahwa ia telah mencoba untuk menghentikan mereka, namun terlambat. "Aku mencintaimu, Wei," bisiknya lirih. "Bahkan setelah mengetahui segalanya, aku tetap mencintaimu." Wei tertawa sinis. "Cinta? Cinta macam apa yang dibangun di atas darah dan pengkhianatan?" Ia mengangkat belatinya, cahayanya memantul di mata yang berkaca-kaca. "Kau akan membayar atas dosa-dosa keluargamu, Zhao Ming." Di atas abu leluhur, Wei mengucapkan janji. Janji untuk membalaskan dendam keluarganya, janji untuk membersihkan namanya, janji untuk menghapus nama keluarga Zhao dari muka bumi. Ciuman terakhir mereka, ciuman yang penuh cinta dan air mata, akan menjadi penanda akhir dari segalanya. Tangan Wei tak bergetar saat belatinya menembus jantung Ming. Lelaki itu tersenyum tipis, air matanya membeku di pipi. Ia tahu, ini adalah akhir yang pantas untuknya. Wei menatap mayat Ming, hatinya terasa hampa. Dendamnya terbalaskan, tapi ia tak merasakan apa-apa selain kekosongan. Seluruh hidupnya telah didedikasikan untuk balas dendam, dan kini, setelah semuanya selesai, ia tak tahu harus kemana. Dengan langkah gontai, Wei meninggalkan altar keluarga Zhao, meninggalkan mayat Ming yang berlumuran darah di atas salju. Ia tahu, ia tak akan pernah bisa melupakan Ming. Cinta dan kebencian mereka akan selamanya terpatri dalam hatinya, bagai luka yang tak pernah bisa sembuh. Balas dendamnya terasa *dingin*. Begitu **dingin**. Di Desa Gunung Salju, tak ada yang mendengar isak tangisnya. Tak ada yang melihat bayangannya menghilang di balik badai salju. Hanya ada keheningan, dan janji yang terucap di atas abu, dan kenyataan bahwa darah keluarganya telah ditebus… …*tapi harga yang harus dibayarnya, jauh lebih mahal dari yang ia kira.*
You Might Also Like: 31 160 Happy Thursday Greetings Wishes

Share on Facebook