**Senyum yang Tak Pernah Jujur Sejak Hari Itu** Hujan gerimis membasahi paviliun di Danau Xi Hu, persis seperti malam itu. Aroma teh Longjing memenuhi udara, tapi tak mampu menghangatkan hatiku yang membeku. Di seberang meja, duduklah dia, Li Wei, pria yang pernah menjadi matahariku, kini hanya seonggok kenangan pahit yang memaksa untuk dihidupkan kembali. Senyum itu... senyum palsu itu. Senyum yang tak pernah jujur sejak hari itu, hari dimana dia *memilih* keluarga, memilih ambisi, memilih segalanya selain aku. Bibirnya melengkung, matanya menyipit, tapi aku tahu, di balik topeng itu, tersembunyi luka yang sama dalamnya. "Lan, sudah lama sekali," ucapnya, suaranya serak, dipenuhi nada penyesalan yang terdengar begitu sia-sia. Dulu, suaranya adalah melodi yang menenangkan jiwaku. Dulu, tatapannya adalah bintang yang menuntun langkahku. Dulu, janjinya adalah sumpah abadi. Tapi 'dulu' hanyalah ilusi yang hancur berkeping-keping di malam *pengkhianatan* itu. Aku menyesap tehku perlahan, menikmati keheningan yang terbentang di antara kami. "Memang, Li Wei. Waktu mengubah segalanya." Dia menghela napas panjang. "Aku... aku menyesal. Aku tahu kata maaf tak akan cukup, tapi…" Aku mengangkat tanganku, menghentikan rentetan kata penyesalannya. Kata-kata itu hanya menambah pedih lukaku. "Jangan, Li Wei. Jangan berbohong padaku, atau pada dirimu sendiri. Kita berdua tahu, penyesalanmu tak akan mengembalikan apapun." **Malam itu**, di bawah rembulan yang sama, dia berjanji akan selalu bersamaku. Dia berjanji akan melawanku, bahkan melawan seluruh dunia, demi cinta kami. Tapi nyatanya? Dia berlutut di hadapan tradisi, mengkhianati janji, dan meninggalkanku sendirian di tengah badai. "Kau tahu, Li Wei," bisikku, menatapnya lurus ke mata. "Kau pernah berkata, cinta kita adalah yang terpenting. Kau pernah berkata, kau akan selalu melindungiku." Dia menunduk, wajahnya pucat pasi. "Aku tahu... aku salah." "Salah? *SALAH*?" Emosiku hampir meledak, tapi aku berhasil mengendalikannya. Aku tak ingin dia melihat air mata. Aku tak ingin dia melihat kerapuhanku. "Kau menghancurkan segalanya, Li Wei. Kau menghancurkan hatiku, kau menghancurkan masa depanku." Dia meraih tanganku, tapi aku menariknya menjauh. Sentuhannya terasa asing, menjijikkan. "Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Lan!" serunya, putus asa. Aku tertawa hambar. "Cinta? Kau tahu apa itu cinta, Li Wei? Cinta adalah pengorbanan. Cinta adalah kesetiaan. Cinta adalah *KEJUJURAN*. Kau tidak pernah memberiku semua itu." Saat itu, aku melihat kilatan penyesalan yang tulus di matanya. Mungkin, hanya mungkin, dia benar-benar menyesal. Tapi itu tak cukup. Terlalu *TERLAMBAT*. Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar. Keluarga Li Wei bangkrut. Bisnisnya runtuh. Kariernya hancur. Semua yang dia bangun dengan susah payah lenyap begitu saja. Aku tak tahu pasti bagaimana itu terjadi, tapi aku tahu satu hal: takdir memiliki cara yang aneh untuk menuntut keadilan. Dan terkadang, keadilan itu terasa seperti *pembalasan* dendam. Aku berdiri di balkon, menatap kota yang gemerlap. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma teh dan kenangan. Aku memejamkan mata, merasakan sentuhan dingin di hatiku. Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi. Dan mungkin... mungkin aku akan membalas cintamu, atau meremukkan hatimu sekali lagi.
You Might Also Like: Battle Of Gettysburg Summary Facts

Share on Facebook