Tentu saja! Inilah kisah dracin yang Anda inginkan: **Kau Datang dengan Dendam, Tapi Pergi dengan Air Mata** _Seratus tahun lalu, di bawah pohon persik yang mekar sempurna, sebuah janji terucap. Janji darah, janji dendam. Seratus tahun kemudian, janji itu menemukan jalannya kembali…_ Langkah kaki **HELENA** bergaung di lorong-lorong Istana Kekaisaran yang megah. Matanya, sedingin es, mengamati setiap detail, seolah mencari sesuatu yang hilang, atau lebih tepatnya, sesuatu yang *dicuri*. Dia datang bukan sebagai putri, bukan sebagai tamu, tapi sebagai badai yang siap menghancurkan. Dia datang dengan dendam yang membara dalam setiap denyut nadinya. Namun, setiap kali matanya bertemu dengan mata **Kaisar LI WEI**, sesuatu yang aneh terjadi. Sebuah dejavu yang menyakitkan, sebuah rasa familiar yang mengusik. Mata itu… mata yang sama yang menatapnya seratus tahun lalu, tepat sebelum pedang menembus jantungnya. "Kau terlihat seperti melihat hantu, Putri Helena," suara Kaisar Li Wei memecah keheningan. Nada suaranya lembut, hampir mengejek, namun Helena merasakan getaran aneh di dalam dirinya. "Aku hanya… mengagumi arsitektur Istana," jawab Helena, berusaha menutupi kegelisahannya. Bohong! Dia tidak tertarik dengan arsitektur. Dia hanya ingin tahu *mengapa* mata itu terasa begitu familiar. Helena, dalam kehidupannya sebelumnya bernama **Lian Mei**, adalah seorang selir yang dituduh berkhianat dan dihukum mati. Li Wei, yang dulu adalah seorang Pangeran yang berkuasa, adalah orang yang menjatuhkan hukuman. Janji Lian Mei saat meregang nyawa, *dendamnya akan kembali mengejar*, terukir dalam jiwanya dan ditransmisikan melintasi ruang dan waktu. Di Istana, Helena mulai menjalankan rencananya. Dia menggunakan kecantikannya, kecerdasannya, dan pengetahuannya tentang masa lalu yang hanya dia yang tahu untuk mengendalikan situasi. Dia menabur benih keraguan di antara para pejabat, mengungkap skandal-skandal tersembunyi, dan perlahan tapi pasti, meruntuhkan fondasi kekuasaan Li Wei. Setiap malam, Helena bermimpi. Mimpi-mimpi tentang pohon persik, tentang janji darah, tentang wajah Li Wei yang dipenuhi amarah. Semakin dia berusaha membalas dendam, semakin mimpi-mimpi itu menjadi jelas. Dia melihat *alasan* di balik hukuman itu. Dia melihat *kebohongan* yang melingkupi istana. Dia melihat *dirinya sendiri*, Lian Mei, yang tidak bersalah. Suatu malam, saat festival lampion, Helena dan Li Wei berdiri berdampingan di balkon istana. Cahaya lampion menari-nari di wajah mereka, menciptakan bayangan yang panjang dan aneh. "Kau tahu, Putri Helena," kata Li Wei, suaranya nyaris berbisik, "Ada saatnya dalam hidup, kita harus melepaskan masa lalu." "Masa lalu tidak akan melepaskan kita," jawab Helena, tanpa menatapnya. "Masa lalu adalah bagian dari diri kita, Kaisar." "Tapi masa lalu bisa menyesatkan," balas Li Wei. "Masa lalu bisa membutakan kita dari kebenaran." Helena berbalik, menatap Li Wei dengan tatapan yang intens. "Kebenaran? Kebenaran apa yang kau sembunyikan, Kaisar?" Li Wei terdiam. Kemudian, dengan suara berat, dia berkata, "Kau tidak tahu apa-apa, Putri. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi seratus tahun lalu." Malam itu, kebenaran terungkap. Bahwa Lian Mei dijebak oleh seorang menteri yang korup, bahwa Li Wei *tidak punya pilihan* selain menjatuhkan hukuman. Dia sangat mencintai Lian Mei, bahkan rela melepaskan takhtanya demi menyelamatkannya, namun dia terjebak dalam jaring-jaring kekuasaan yang lebih besar. Helena *terpaku*. Dendamnya hancur berkeping-keping. Air mata mulai mengalir di pipinya. Dia datang untuk membalas dendam, tapi dia menemukan kebenaran yang lebih menyakitkan: *cinta* yang hilang, *kesempatan* yang terenggut, dan *penderitaan* yang dialami oleh kedua jiwa mereka selama seratus tahun. Helena tidak membalas dendam. Dia tidak membunuh Li Wei. Dia tidak meruntuhkan kekaisaran. Dia hanya pergi. Dia pergi dengan air mata, meninggalkan keheningan yang menusuk di belakangnya. Pengampunan yang *lebih menyakitkan* dari amarah. Di bawah pohon persik yang sama, di tempat janji darah terucap seratus tahun lalu, Helena berlutut. Angin berbisik di telinganya, membawa suara yang familiar, suara dari kehidupan sebelumnya: "_Jangan lupakan aku…_"
You Might Also Like: Arrowhead Animal Hospital Set Of Images

Share on Facebook