## Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas dari Bayanganku Hujan selalu turun di atas makam Li Wei. Bukan hujan deras yang mengamuk, melainkan gerimis lembut, seperti air mata langit yang tak pernah kering. Di bawah payung hitamnya, aku berdiri, mencium aroma tanah basah dan krisan putih yang baru diletakkan. Li Wei. **Namanya** terasa asing di lidahku, meskipun ia *mengaku* masa laluku. Katanya, kami pernah saling mencintai di kehidupan sebelumnya. Ia meninggal dalam kecelakaan tragis, sebuah rahasia yang tak sempat terucap mengikat jiwanya ke dunia ini. Dan sekarang, ia hadir di hadapanku, *arwah gentayangan* yang menolak pergi, menyisakan bayangan dingin di setiap langkahku. "Aku harus menceritakan semuanya," bisiknya, suaranya bagai desiran angin di antara nisan. Setiap malam, ia hadir. Bukan sebagai sosok menakutkan, melainkan *bayangan* yang penuh kerinduan dan penyesalan. Ia menceritakan kisah cinta mereka, kisah pengkhianatan dan penyesalan, semuanya terdengar seperti dongeng yang kelam. Aku mendengarkan, tanpa bisa membenarkan, tanpa bisa menyangkal. Karena dalam hatiku, ada kekosongan yang menyakitkan, seperti potongan puzzle yang hilang. Ia menuntut keadilan. Menuntut balas dendam pada mereka yang bertanggung jawab atas kematiannya. Awalnya, aku percaya. Aku terhanyut dalam amarahnya, merasakan dendamnya sebagai milikku. Aku menyelidiki, menggali masa lalu Li Wei, mencari jejak kebenaran di antara debu dan rahasia. Namun, semakin dalam aku menggali, semakin aku menyadari ada sesuatu yang *tidak beres*. Kisahnya tidak lengkap. Ada bagian yang disembunyikan, ada kebohongan yang terselubung di balik tangisan arwahnya. Malam itu, di depan makamnya, aku menantang Li Wei. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? Balas dendam? Atau sesuatu yang lain?" Ia terdiam lama. Hujan semakin deras, membasahi payungku dan jiwaku. Akhirnya, ia berbicara, suaranya lirih, hampir tak terdengar di tengah gemuruh hujan. "Aku... aku tidak ingin balas dendam. Aku hanya ingin... *damai*." Ternyata, selama ini, Li Wei tidak mencari pembalasan, melainkan pengampunan. Ia ingin mengakui kebenaran tentang masa lalunya, tentang kesalahannya, tentang cinta yang ia sakiti. Ia ingin memohon maaf kepada mereka yang ia tinggalkan, kepada mereka yang ia khianati. Dengan bantuan arwah Li Wei, aku menemukan surat yang ia tulis sebelum meninggal. Surat yang berisi pengakuan dosa dan permintaan maaf. Surat itu, aku berikan kepada keluarga Li Wei. Aku saksikan air mata mereka jatuh, bukan air mata kemarahan, melainkan air mata kelegaan. Air mata *pengampunan*. Sejak saat itu, bayangan Li Wei semakin memudar. Hawa dingin yang selalu menyelimutiku perlahan menghilang. Ia tidak lagi mendatangiku setiap malam. Aku tahu, ia sudah menemukan kedamaiannya. Malam terakhir, aku berdiri di depan makamnya. Hujan sudah berhenti. Bulan bersinar terang, menerangi nisan putih yang basah. Aku merasakan kehadirannya, bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai *kehangatan*. "Terima kasih," bisiknya. Lalu, hening. *Ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya.*
You Might Also Like: 32 Rahasia Skincare Lokal Aman Untuk

Share on Facebook