Oke, ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari dracin dengan sentuhan yang diminta: **Senja Patah Hati di Bawah Rintik Hujan** Rintik hujan menggigil membasahi atap paviliun tua itu, persis seperti hatiku enam tahun lalu. Aroma tanah basah dan kayu lapuk menguar, membawaku kembali ke hari *itu*. Hari ketika janji terukir di langit senja, lalu hancur berkeping-keping di bawah tatapan dinginmu. Liwei berdiri di hadapanku, siluetnya kabur di balik tirai hujan. Dulu, matanya adalah mentari bagiku. Sekarang, hanya ada kegelapan yang tak tertebus. "Kau… akhirnya datang," bisikku, suara serak tertelan gemuruh hujan. "Aku datang untuk menuntaskan apa yang belum selesai," jawabnya dingin. Nada suaranya tak lagi mengandung kelembutan yang dulu membuatku tergila-gila. Bayangan lentera yang nyaris padam menari-nari di dinding. Cahayanya yang redup seolah mencerminkan hubungan kita: dulu berkobar terang, kini sekarat. Aku melihat bayanganku dan Liwei saling menjauh, patah di tengah dinding yang lembab. "Kau mencintaiku dengan mata tertutup, Liwei. Aku percaya itu cinta sejati," ujarku, mencoba mencari secercah kehangatan dari masa lalu. Dia tertawa sinis. "Cinta sejati? Kau pikir aku sebodoh itu, Jian? Kau pikir aku lupa bagaimana kau menusukku dari belakang?" Kilatan amarah menyambar matanya, membuatku tersentak. Enam tahun. Enam tahun aku menunggu saat ini. Enam tahun aku merencanakan segalanya. Setiap tetes air mata yang jatuh, setiap malam tanpa tidur, setiap tusukan rasa sakit… semua itu bahan bakar bagiku. "Kau salah paham, Liwei," bisikku, berpura-pura terluka. "Aku… aku tidak pernah bermaksud menyakitimu." "Bohong!" teriaknya, suaranya menggelegar di tengah keheningan paviliun. "Kau merebut segalanya dariku! Karirku, keluargaku, *cintaku*!" Dia maju selangkah, matanya penuh kebencian. Aku mundur, jantungku berdebar kencang. Sekarang saatnya. "Kau benar, Liwei," aku mengakui, senyum tipis tersungging di bibirku. "Aku merebut segalanya darimu. Dan aku akan merebut satu hal lagi." Aku mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik jubahku. Cairan di dalamnya berkilauan aneh dalam cahaya lentera. "Racun? Kau akan membunuhku?" Liwei bertanya, suaranya gemetar. Aku tersenyum lebar. "Membunuhmu? Oh, tidak. Kematian terlalu mudah. Aku hanya ingin kau merasakan apa yang aku rasakan selama enam tahun ini." Aku mendekat, menahannya dengan satu tangan. Matanya membulat, ketakutan terpancar jelas di wajahnya. "Lihatlah aku, Liwei. Lihatlah orang yang kau hancurkan. Lihatlah orang yang *kau* ciptakan." Aku menyeringai. "Karena, sayangku… **sebenarnya, aku tidak pernah mencintaimu sama sekali.**"
You Might Also Like: 31 Kekurangan Sunscreen Mineral Lokal

Share on Facebook