Baiklah, ini dia kisah dracin yang Anda minta: **Kau Datang di Tengah Upacara, dan Aku Lupa Siapa Pengantinnya** Lembah Anggrek Berdarah. Begitulah orang-orang menyebut kediamanku dulu. Bukan karena anggrek yang tumbuh di sana berwarna merah, melainkan karena darah yang membasahi tanahnya. Darah pengkhianatan. Darah kekalahan. Darah *KEHANCURAN*. Aku, Bai Lianhua, dulu adalah tunangan Putra Mahkota. Dulu. Sebelum dia memilih kekuasaan di atas cinta, sebelum dia menjebak ayahku, Jenderal Besar Bai, dengan tuduhan palsu, sebelum dia merebut segalanya. Kecuali satu: ingatanku. Dan dendamku. Lima tahun berlalu. Aku kembali. Bukan sebagai Bai Lianhua yang dulu, gadis polos yang percaya pada cinta sejati. Aku adalah *Bunga Bangkai* yang mekar di atas puing-puing hatiku. Aku telah menempa diri, melatih seni bela diri terlarang, mengasah otak hingga setajam pedang. Aku belajar memanipulasi, berbohong, dan membunuh – semuanya dengan senyuman manis di bibir. Hari ini adalah hari pernikahan Putra Mahkota, Li Wei, dengan putri dari Perdana Menteri Zhao. Pesta berlangsung meriah, penuh dengan senyum palsu dan pujian menjilat. Aku berdiri di antara kerumunan, mengenakan gaun sutra hitam yang menyerap cahaya. Wajahku tersembunyi di balik cadar tipis, menyembunyikan bekas luka di pipiku – hadiah dari Li Wei, tanda bahwa aku miliknya. *DULU*. Musik tiba-tiba berhenti. Semua mata tertuju pada satu titik: aku. Dengan gerakan anggun, aku menarik cadarku. Keheningan menyelimuti seluruh ruangan. "Selamat sore, Yang Mulia," sapaku, suaraku bagai beludru yang dilapisi racun. "Maaf jika kedatanganku sedikit mengganggu." Li Wei memucat. Matanya membulat, penuh ketakutan yang selama ini ingin kulihat. Di sampingnya, putri Zhao gemetar. Aku melangkah maju, setiap langkah adalah simfoni kehancuran yang tertunda. "Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku datang. Sederhana saja. Aku datang untuk mengucapkan selamat." Aku berhenti tepat di hadapannya, menatap matanya lekat-lekat. "Selamat atas pernikahanmu... dengan seseorang yang tidak akan pernah kau cintai sebesar kau mencintaiku." Tawa dingin menyebar di antara para tamu. Aku melanjutkan, "Sayang sekali, kau memilih kekuasaan. Padahal, aku bisa memberikanmu keduanya. Tapi tenang saja, Yang Mulia. Aku akan memastikan kau mendapatkan apa yang pantas kau dapatkan." Aku menoleh ke arah putri Zhao. "Kasihanilah dirimu, Nona Zhao. Kau hanyalah pion dalam permainannya. Sebentar lagi, kau akan mengerti betapa mengerikannya cinta sejati jika berada di tangan orang yang salah." Dengan satu gerakan cepat, aku mengeluarkan jarum perak dari sanggulku dan menusukkannya ke leher Li Wei. Bukan untuk membunuhnya. Bukan sekarang. Jarum itu mengandung racun kelumpuhan sementara, cukup untuk mempermalukannya di hadapan seluruh kerajaan. Li Wei jatuh berlutut, mencoba berbicara, namun yang keluar hanyalah erangan. Aku berjongkok di hadapannya, mengelus pipinya dengan lembut. "Kau tahu, Yang Mulia," bisikku, "ada perbedaan antara balas dendam dan *KEADILAN*. Aku tidak mencari yang pertama. Aku hanya ingin yang kedua." Aku berdiri, membalikkan badan, dan berjalan keluar dari aula, meninggalkan kekacauan dan ketakutan di belakangku. Langkahku ringan, seolah beban bertahun-tahun telah terangkat dari pundakku. Di ambang pintu, aku berhenti sejenak. Menoleh ke belakang, aku melihat Li Wei masih berlutut, tatapannya penuh kebencian dan penyesalan. Aku tersenyum. "Dan sekarang," gumamku, "aku lupa siapa pengantinnya." Saat matahari terbenam mewarnai langit dengan warna merah dan emas, aku melangkah keluar dari istana, menuju masa depan yang belum tertulis, dengan senyum di bibir dan ketenangan di hati, siap untuk menata kembali kepingan-kepingan takdirku – *karena ternyata, mahkota itu selalu ada di sini, menunggu untuk kukenakan sendiri.*
You Might Also Like: Mimpi Menyelamatkan Siput Sawah Menurut

Share on Facebook