Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang Anda minta, dengan sentuhan reinkarnasi, magis, melankolis, dan sedikit bumbu balas dendam: **Kau Mencium Tanganku, Tapi Dinginnya Tak Pernah Hilang** Rin terbangun dengan napas tersengal. Mimpi itu lagi. Taman bunga *plum* putih yang diselimuti salju, dan seorang pria berjubah brokat hitam mencium punggung tangannya. Sentuhan itu… familiar sekaligus **MENYAKITKAN**. Ia, yang sekarang bernama Lin Mei, adalah seorang mahasiswi arkeologi yang terobsesi dengan Dinasti Ming. Ia merasa ditarik, bukan, *dicengkeram* oleh sejarah itu. Setiap artefak yang ia sentuh seolah berbisik, memberinya potongan-potongan ingatan yang terasa seperti pecahan kaca menusuk jiwanya. Suatu sore, saat menggali di reruntuhan kuil kuno, ia menemukan sebuah kotak musik dari perak. Begitu dibuka, alunan musiknya membawa Lin Mei ke pusaran kenangan. Ia melihat dirinya, seorang selir kesayangan bernama Roulan, tertawa di bawah pohon *plum*. Lalu… pengkhianatan. Kekasihnya, Kaisar Yongle, yang bersumpah setia, ternyata berkomplot dengan selir lain untuk meracuninya. *Racun itu…* Lin Mei terisak. Ia ingat bagaimana napasnya tercekat, bagaimana pandangannya mengabur saat Kaisar yang ia cintai memegang tangannya, berjanji akan membalas kematiannya. Tapi bibirnya terasa dingin, sedingin es yang membekukan hatinya. Di dunia modern, Lin Mei bertemu dengan seorang pengusaha kaya bernama Zhang Wei. Pria itu memiliki aura *kekuasaan* yang sama dengan Kaisar Yongle dalam mimpinya. Zhang Wei terpesona oleh Lin Mei, oleh kecerdasannya, oleh aura misterius yang mengelilinginya. Ia mencium tangan Lin Mei saat pertama kali bertemu. Dingin. Sentuhan itu, sama dinginnya dengan yang ia rasakan di kehidupan sebelumnya. Lin Mei sadar. Zhang Wei adalah reinkarnasi Kaisar Yongle. Bukan hanya itu, selir yang berkhianat, dulu Li Hua, kini adalah sekretaris Zhang Wei, seorang wanita anggun bernama Li Qing. Balas dendam bukan lagi pilihan, melainkan takdir. Lin Mei menerima cinta Zhang Wei, tapi bukan dengan hati yang tulus. Ia menggunakan pengetahuannya tentang sejarah, tentang titik lemah Zhang Wei, untuk mengendalikan perusahaan miliknya, perlahan namun pasti. Ia memastikan Li Qing terdepak dari kehidupan Zhang Wei, dijauhi, dilupakan. Pada akhirnya, Zhang Wei, yang jatuh cinta buta pada Lin Mei, menyerahkan seluruh kekayaannya dan kekuasaannya. Lin Mei tidak mengambilnya untuk diri sendiri. Ia menyalurkannya untuk yayasan amal, membantu anak-anak yatim piatu dan melestarikan situs-situs bersejarah. Saat Zhang Wei bertanya mengapa, Lin Mei hanya tersenyum tipis. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan, Yang Mulia.” Lin Mei meninggalkan Zhang Wei, meninggalkannya dalam kebingungan dan penyesalan. Ia berjalan menuju matahari terbenam, meninggalkan dunia yang dipenuhi intrik dan dendam. Mungkin, di kehidupan selanjutnya, ia akan mencintai tanpa ada bayang-bayang racun dan pengkhianatan, tapi tidak sekarang, bukan di dunia ini. Dan jejaknya, yang hanya berupa desiran angin, berbisik lirih: "Kita akan bertemu lagi, di taman *plum* yang sama."
You Might Also Like: 94 Fakta Menarik Skincare Lokal Dengan

Share on Facebook