Cerpen Keren: Kau Datang Membawa Cinta, Tapi Aku Datang Membawa Api
Hujan gerimis menari-nari di atap paviliun, mengiringi tawa renyahmu yang dulu bagai lonceng perak di telingaku. Sekarang, hanya gema hampa yang tersisa. Kau datang membawa cinta, Xia, cintamu bagai musim semi yang mekar di hatiku yang beku. Bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni yang belum pernah kubayangkan. Aku, yang terbiasa dengan dinginnya salju dan getirnya badai, akhirnya merasakan hangatnya mentari.
Ingatkah kau, Xia? Di bawah pohon persik yang sama, kau berjanji akan selalu bersamaku? Kau bersumpah akan menemaniku melewati badai apapun, akan menjadi pelita di gelapnya malamku. Kau memberikan HARAPAN, Xia. Sesuatu yang sudah lama kupendam jauh di dalam jurang keputusasaan.
Tapi kemudian, badai yang sesungguhnya datang. Bukan badai alam, melainkan badai pengkhianatan. Kau memilih tahta, Xia. Kau memilih kekuasaan. Kau memilih dia. Meninggalkanku terkapar di tengah puing-puing janji yang kau hancurkan sendiri.
Aku, yang dulunya adalah kekasihmu, menjadi musuhmu. Cinta yang dulu membara, kini hanya menyisakan abu dan bara dendam. Aku datang membawa api, Xia. Api yang akan membakar habis semua yang kau miliki. Bukan karena aku membencimu, tapi karena kau MENGHANCURKANKU.
Malam ini, di pesta perayaan kemenanganmu, aku melihatmu. Kau berdiri di puncak kejayaan, bersinar dalam balutan sutra merah. Di sampingmu, dia, pria yang merebutmu dariku. Senyummu begitu cerah, seolah tidak ada luka yang pernah kau torehkan di hatiku.
Aku mendekatimu, menyelinap di antara kerumunan tamu. Ketika mata kita bertemu, sesaat kulihat bayangan penyesalan di matamu. Tapi itu hanya sekejap, sebelum kembali tertutup oleh topeng kebahagiaan.
Aku mengangkat gelas anggur, menatapmu dengan senyum tipis. "Selamat atas pernikahanmu, Xia."
Kau membalas tatapanku, "Terima kasih, Li Wei."
Di balik senyumku, ada rencana yang telah kurancang matang. Malam ini, kebahagiaanmu akan berubah menjadi mimpi buruk. Bukan aku yang akan melakukannya secara langsung. Bukan aku yang akan mengotori tanganku dengan darahmu. Tapi takdir, Xia. Takdir yang akan menuntut keadilan. Racun yang kumasukkan ke dalam anggurmu perlahan bekerja, tanpa ada yang menyadarinya.
Beberapa saat kemudian, kau memegangi dadamu, wajahmu pucat pasi. Kau menatapku dengan pandangan tak percaya, sebelum akhirnya ambruk ke lantai.
Chaos! Kepanikan melanda aula. Dia, suamimu, berteriak histeris. Aku hanya berdiri di sana, menyaksikan kehancuranmu dalam diam.
Kau menghembuskan napas terakhirmu di pangkuannya.
Aku berbalik, melangkah pergi, meninggalkan pesta yang kini berubah menjadi lautan air mata.
Takdir memang kejam, bukan?
Apakah ini akhir dari cintaku padamu, atau awal dari pembalas dendamanku?
You Might Also Like: 174 Churchill Downs Saturday 42923 Pony